Jumat, 19 Juni 2015

Don't Go! 2

          “Kan aku udah bilang kalau aku ini peri. Nggak percaya sih!” sungut Cloud.

      “Kalau memang kamu ini peri, kenapa kamu nggak bisa nyembuhin luka-lukamu sendiri?” tanya Tifa masih tak percaya.

      “Karena kami memang nggak bisa menggunakan kekuatan kami untuk diri kami sendiri. Makanya aku nggak bisa nyembuhin luka-lukaku.” tuturnya.

       Akhirnya setelah mendengar penjelasan lebih tentang dunia peri, barulah Tifa percaya bahwa mereka itu nyata. Kemudian kedua adik Tifa turun menghampiri mereka.

          “Kakak, aku lapar nih. Lho, itu siapa?” tanya Marlene penasaran.

       “Dia teman Kakak. Namanya Cloud. Kamu lapar, ya? Tunggu sebentar yah, Kakak panasin makanan yang di dapur dulu. Kalian nonton TV aja.” ujarnya seraya meninggalkan mereka bertiga di sofa yang berada di ruang keluarga.

       “Kakak namanya kok lucu? Cloud kan artinya awan. Hi hi.” celetuk Marlene saat menghidupkan TV. Cloud tersenyum mendengarnya.

        “Kakak beneran temannya Kak Tifa? Aku nggak pernah lagi ketemu sama teman lelakinya Kak Tifa semenjak dia putus sama orang jahat itu.” Danzel bertanya untuk memastikan.

         “Sebenernya kami baru bertemu. Kakak kalian menolongku. Oh ya, orang tua kalian kemana?” tanyanya.

         “Mama sama Papa sudah meninggal 2 tahun yang lalu, Kak. Mereka meninggal karena kecelakaan. Jadi kami yang kami punya cuma Kak Tifa aja. Kata Kakak kita nggak boleh sedih meskipun orang tua kita sudah meninggal, karena mereka masih ngawasin kita dari Surga.” Danzel bercerita dengan nada mantab. Cloud tertegun mendengar seorang anak yang masih berumur belasan tahun begitu tegarnya saat kehilangan orang tua.

         “Makanan siap. Ayo ke ruang makan semua.” Tifa muncul dari dapur. Kedua adiknya yang sepertinya sedang kelaparan, berlari menuju ruang makan.

        “Sini aku bantu kamu berdiri. Mmh.. makanan peri itu kayak apa ya? Aku nggak tau.” ucapnya polos.

       “Sama kayak manusia kok. Jadi kamu tenang aja. By the way, thanks a lot for everything. You’re so kind to me.” Tifa merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Jantungnya berdegup kencang. Sudah lama dia tak merasakan perasaan seperti ini.

          “Kamu kenapa kok kayak orang bingung gitu?” tanya Cloud mengagetkan Tifa.

          “Hah? E… em.. Kita makan yuk! Biar kamu cepet sembuh.” seketika Tifa gelagapan. Setelah makan malam, Tifa mengizinkan Cloud untuk tidur di kamar yang kosong.


          3 bulan kemudian . . .

          Kebersamaan memunculkan rasa nyaman di hati keduanya. Benih-benih cinta mulai tumbuh. Namun tak satupun berani mengungkapkannya.

        “Dan, Marlene, Kakak berangkat ya. Kalian cepet berangkat juga ya, biar nggak telat.” seru Tifa di suatu pagi.

       “Tumben pagi banget berangkatnya?” Cloud muncul tiba-tiba saat Tifa hendak memakai sepatu.

          “Oh, iya, masih ada urusan di kampus nih.” jawabnya.

          “Boleh aku temenin? Aku pengen tahu daerah di sini.” pintanya.

          “Kalau kamu pulangnya nyasar, gimana?” Tifa lupa kalau Cloud adalah seorang peri.

       “Kamu lupa ya kalau aku ini peeee…” Tifa buru-buru membungkam mulut Cloud. Tubuh keduanya berdekatan, membuat jantung keduanya berdetak lebih cepat. Dan seketika suasana jadi canggung.

          Lalu keduanya berangkat bersama-sama. Sepanjang jalan banyak tetangganya yang menggoda Tifa karena mereka hampir tidak pernah melihatnya berjalan bersama lelaki. Cloud yang berada di sebelahnya hanya tersenyum melihat wajah gadis itu berubah menjadi merah seperti kepiting rebus. “Aku sayang kamu, Tifa.” ucapnya dalam hati.

          Setelah mengantarkan Tifa, Cloud berjalan-jalan untuk menyegarkan pikirannya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat ada sebuah taman yang cukup rindang. Cloud duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Kemudian ada seorang nenek yang menghampirinya.

          “Kamu sedang memikirkan apa anak muda?” tanyanya.

       “Masalah hati, Nek. Aku bingung. Aku menyukai seseorang yang baru ku kenal, tetapi aku sudah nyaman dengannya. Dia baik sekali padaku, padahal kami baru saja berkenalan, dan dia juga seorang pekerja keras.” Cloud menghentikan ucapannya.

        “Lalu?” Nenek itu sedikit memiringkan kepalanya agar dapat melihat ekspresi Cloud yang sedang menunduk.

        “Aku bingung dengan perasaanku. Apakah perasaan nyaman ini hanya sekedar tanda terima kasih atau aku jatuh cinta padanya, aku tak tahu, Nek.” ungkapnya.

        “Mudah saja. Kalau kau jatuh cinta padanya, kau akan merasa bahagia hanya dengan melihatnya tersenyum padamu. Dan juga kau juga tak akan bisa berlama-lama jauh darinya.” Nenek itu tersenyum pada Cloud.

    Cloud diam sesaat dan memejamkan matanya. Memikirkan apa yang telah dirasakannya selama ini. Dan akhirnya dia yakin bahwa telah jatuh cinta pada gadis asing yang baru dikenalnya beberapa bulan itu. Malaikat penyelamatku, Tifani.


      “Oke! Terima kasih ya, Nee.. nek.” Cloud kaget karena nenek yang tadi di sebelahnya tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Namun ia tak mau ambil pusing. Ia merencanakan untuk menyatakan perasaannya pada Tifa malam ini di tempatnya berada sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar