“Kan aku udah bilang kalau aku ini
peri. Nggak percaya sih!” sungut Cloud.
“Kalau memang kamu ini peri, kenapa
kamu nggak bisa nyembuhin luka-lukamu sendiri?” tanya Tifa masih tak percaya.
“Karena kami memang nggak bisa
menggunakan kekuatan kami untuk diri kami sendiri. Makanya aku nggak bisa
nyembuhin luka-lukaku.” tuturnya.
Akhirnya setelah mendengar penjelasan
lebih tentang dunia peri, barulah Tifa percaya bahwa mereka itu nyata. Kemudian
kedua adik Tifa turun menghampiri mereka.
“Kakak, aku lapar nih. Lho, itu
siapa?” tanya Marlene penasaran.
“Dia teman Kakak. Namanya Cloud. Kamu
lapar, ya? Tunggu sebentar yah, Kakak panasin makanan yang di dapur dulu.
Kalian nonton TV aja.” ujarnya seraya meninggalkan mereka bertiga di sofa yang
berada di ruang keluarga.
“Kakak namanya kok lucu? Cloud kan
artinya awan. Hi hi.” celetuk Marlene saat menghidupkan TV. Cloud tersenyum
mendengarnya.
“Kakak beneran temannya Kak Tifa? Aku
nggak pernah lagi ketemu sama teman lelakinya Kak Tifa semenjak dia putus sama
orang jahat itu.” Danzel bertanya untuk memastikan.
“Sebenernya kami baru bertemu. Kakak
kalian menolongku. Oh ya, orang tua kalian kemana?” tanyanya.
“Mama sama Papa sudah meninggal 2
tahun yang lalu, Kak. Mereka meninggal karena kecelakaan. Jadi kami yang kami
punya cuma Kak Tifa aja. Kata Kakak kita nggak boleh sedih meskipun orang tua
kita sudah meninggal, karena mereka masih ngawasin kita dari Surga.” Danzel
bercerita dengan nada mantab. Cloud tertegun mendengar seorang anak yang masih
berumur belasan tahun begitu tegarnya saat kehilangan orang tua.
“Makanan siap. Ayo ke ruang makan
semua.” Tifa muncul dari dapur. Kedua adiknya yang sepertinya sedang kelaparan,
berlari menuju ruang makan.
“Sini aku bantu kamu berdiri. Mmh..
makanan peri itu kayak apa ya? Aku nggak tau.” ucapnya polos.
“Sama kayak manusia kok. Jadi kamu
tenang aja. By the way, thanks a lot for everything. You’re so kind to me.”
Tifa merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Jantungnya berdegup kencang.
Sudah lama dia tak merasakan perasaan seperti ini.
“Kamu kenapa kok kayak orang bingung
gitu?” tanya Cloud mengagetkan Tifa.
“Hah? E… em.. Kita makan yuk! Biar
kamu cepet sembuh.” seketika Tifa gelagapan. Setelah makan malam, Tifa
mengizinkan Cloud untuk tidur di kamar yang kosong.
3 bulan kemudian . . .
Kebersamaan memunculkan rasa nyaman di
hati keduanya. Benih-benih cinta mulai tumbuh. Namun tak satupun berani
mengungkapkannya.
“Dan, Marlene, Kakak berangkat ya.
Kalian cepet berangkat juga ya, biar nggak telat.” seru Tifa di suatu pagi.
“Tumben pagi banget berangkatnya?”
Cloud muncul tiba-tiba saat Tifa hendak memakai sepatu.
“Oh, iya, masih ada urusan di kampus
nih.” jawabnya.
“Boleh aku temenin? Aku pengen tahu
daerah di sini.” pintanya.
“Kalau kamu pulangnya nyasar, gimana?”
Tifa lupa kalau Cloud adalah seorang peri.
“Kamu lupa ya kalau aku ini peeee…”
Tifa buru-buru membungkam mulut Cloud. Tubuh keduanya berdekatan, membuat
jantung keduanya berdetak lebih cepat. Dan seketika suasana jadi canggung.
Lalu keduanya berangkat bersama-sama.
Sepanjang jalan banyak tetangganya yang menggoda Tifa karena mereka hampir
tidak pernah melihatnya berjalan bersama lelaki. Cloud yang berada di sebelahnya
hanya tersenyum melihat wajah gadis itu berubah menjadi merah seperti kepiting
rebus. “Aku sayang kamu, Tifa.” ucapnya dalam hati.
Setelah mengantarkan Tifa, Cloud
berjalan-jalan untuk menyegarkan pikirannya. Tak jauh dari tempatnya berdiri,
terlihat ada sebuah taman yang cukup rindang. Cloud duduk di salah satu kursi
yang berada di sana. Kemudian ada seorang nenek yang menghampirinya.
“Kamu sedang memikirkan apa anak
muda?” tanyanya.
“Masalah hati, Nek. Aku bingung. Aku
menyukai seseorang yang baru ku kenal, tetapi aku sudah nyaman dengannya. Dia
baik sekali padaku, padahal kami baru saja berkenalan, dan dia juga seorang
pekerja keras.” Cloud menghentikan ucapannya.
“Lalu?” Nenek itu sedikit memiringkan
kepalanya agar dapat melihat ekspresi Cloud yang sedang menunduk.
“Aku bingung dengan perasaanku. Apakah
perasaan nyaman ini hanya sekedar tanda terima kasih atau aku jatuh cinta
padanya, aku tak tahu, Nek.” ungkapnya.
“Mudah saja. Kalau kau jatuh cinta
padanya, kau akan merasa bahagia hanya dengan melihatnya tersenyum padamu. Dan
juga kau juga tak akan bisa berlama-lama jauh darinya.” Nenek itu tersenyum
pada Cloud.
Cloud diam sesaat dan memejamkan matanya.
Memikirkan apa yang telah dirasakannya selama ini. Dan akhirnya dia yakin bahwa
telah jatuh cinta pada gadis asing yang baru dikenalnya beberapa bulan itu.
Malaikat penyelamatku, Tifani.
“Oke! Terima kasih ya, Nee.. nek.”
Cloud kaget karena nenek yang tadi di sebelahnya tiba-tiba menghilang dalam
sekejap. Namun ia tak mau ambil pusing. Ia merencanakan untuk menyatakan
perasaannya pada Tifa malam ini di tempatnya berada sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar