Jumat, 19 Juni 2015

Don't Go! 1

       Peri itu hanya khayalan. Peri itu hanya ada di dunia dongeng. Peri itu tidak nyata.

          Setidaknya itu yang dipercaya oleh Tifa sebelum ia bertemu dengan seorang pemuda yang terluka di depan café tempatnya bekerja. Tifa tak tahu darimana ia datang dengan kondisi tubuh penuh luka seperti itu.

          “Kamu kenapa bisa luka kayak gini?” tanya Tifa pada pemuda itu.

          “Tolong.. a.. ku..” ucapnya lirih.

          Karena tak tega dengan kondisinya yang penuh luka, Tifa berpamitan untuk pulang lebih awal kepada manajer café. Tifa membopong pemuda itu dengan susah payah. Untungnya, letak rumahnya tak begitu jauh dari café.

          “Marlene… Danzel… bisa tolong bukakan pintunya?” seru Tifa kepada kedua adiknya yang sedang berada di rumah.

          “Kakak kok udah pulang? Ada yang ke…”

         “Tolong bantu Kakak, Danzel.” Tifa dibantu oleh adik lelakinya meletakkan pemuda yang terluka itu di sofa.

      “Kamu tolong jaga dia sebentar, ya. Kakak mau ambil kota P3K dulu.” perintah Tifa. Danzel memandangi pemuda itu dengan heran. Pemuda itu balas memandangnya.

          “Hey jagoan makasih, ya. Aku Cloud.” Cloud tersenyum ramah.

         “Iya, Kak. Aku Danzel. Kakak kenapa babak belur gini? Habis tengkar ya?” tanya Danzel penasaran. Cloud hanya tersenyum, membuat Danzel semakin penasaran.

          “Marlene mana, Dan?” Tifa muncul dengan membawa kotak P3K dan kompres.

          “Di kamar, Kak. Lagi belajar.” sahutnya.

          “Terus kamu kenapa nggak belajar juga? Belajar gih! Katanya mau jadi juara kelas terus?” ucap Tifa.

       “Iya, Kak. Ini otewe. Cepet sembuh ya, Kak Cloud.” Danzel meninggalkan Tifa dan Cloud dengan langkah sedikit berlari.

       Seketika suasana hening. Tifa menyeka darah yang sudah agak kering di pelipis Cloud. Kemudian dia mengobatinya dengan betadine dan menutup lukanya dengan kasa dan plester. Begitu seterusnya hingga semua luka selesai dibersihkan dan tertutup kasa.

          “Makasih banyak.” ucap Cloud singkat.

          “No problem. By the way, namamu Cloud? Aku Tiffani. Panggil aja Tifa.” jawabnya seraya memperkenalkan diri. Cloud hanya mengangguk lemah seraya tersenyum tipis.

          “Kamu habis berkelahi sama siapa? Kok sampai babak belur gitu? Dan sepertinya kamu bukan penduduk daerah sini ya?” tanya Tifa seperti menginterogasi.

          “Entah kamu akan bakal percaya atau nggak. Aku ini sebenarnya bangsa peri. Aku dikeroyok sama selingkuhan kekasihku, eh maksudku mantan kekesih. Dan entah bagaimana bisa kesasar ke dunia manusia ini.” jelasnya.

      Tifa seakan tak percaya akan perkataan Cloud. Dia tertawa terbahak-bahak karenya, “Ha ha ha. Peri? Kamu kira aku anak kecil yang percaya sama begituan? Peri itu nggak nyata. Mereka cuma ada di dunia dongeng. Jadi jangan bohong, deh! Atau jangan-jangan kamu ini  buronan polisi ya? Kamu teroris ya? Atau…”

          “Cerewet! Kamu perlu bukti? Sini ku buktiin.” Cloud membuktikan status ke-peri-annya dengan mengangkat gelas yang di meja tanpa menyentuhnya.


          Tifa terbelalak melihat apa yang dilakukan Cloud, “Kok…?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar