Minggu, 05 Juli 2015

Don't Go! 4

Cloud mencari ke segala tempat yang pernah mereka datangi, namun tak juga ia jumpai belahan jiwanya itu. Lelah, Cloud memilih duduk di trotoar. Seketika pusing menyerang kepalanya. Dia tak menyangka bahwa mantan kekasihnya akan menemukannya di tempat ini. Dan juga kejadian Zee yang menciumnya saat Tifa berada di belakangnya.

“Aaarrrgggghhh!!” erangnya.

“Honey, ayo kita pulang. Tempatmu bukan di sini. Dan lihat penampilanmu, menjijikkan sekali!” Zee muncul seraya merangkul lengan Cloud.

“Persetan! Buat apa kamu muncul sekarang?! Aku bahagia di sini, tolong tinggalkan aku dan jangan ganggu aku lagi!”

“I miss you, Honey. Maafin aku udah mutusin kamu waktu itu. Ternyata aku salah. Kita mulai dari awal lagi, yah?”

“Maaf, aku nggak bisa. Tolong pergi dari sini. Aku sudah punya kekasih dan aku bahagia bersamanya. Kembalilah, Zee. Di sini bukan tempatmu. Dan kamu bisa mencari lelaki yang lebih dariku ini. Banyak di sana yang tertarik padamu. Aku yakin kamu pasti bahagia juga.”

“Tapi Honey, aku sayangnya sama kamu. Bukan sama yang lain.”

“I said leave me alone!!” Cloud murka dan menghilang dari hadapan Zee.

Zee terdiam sesaat. Tak terima diperlakukan seperti itu, dia merencanakan sesuatu.

“Kamu kira bisa pergi dariku semudah itu, Cloud? Kekasih katamu? Ha ha. Tak akan ku biarkan siapa pun memilikimu.”


Keesokan harinya Cloud menemui Tifa di rumahnya, namun ia telah berangkat ke kampus lebih awal. Cloud menunggu Tifa pulang di taman dekat kampus. Cloud melihatnya keluar dari kampus, namun ia mengurungkan niatnya karena teringat wajah Tifa yang berlinang air mata malam itu.

Lama berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti gadisnya itu dari jauh. Sesampainya di rumah, ada seseorang di sana.

“Permisi. Maaf, Anda siapa?” sapa Tifa ramah pada seseorang itu.

“Kamu yang namanya Tiffani?”

“Iya, aku Tiffani. Maaf, ada perlu apa ya? Dan apa kita saling kenal?”

“Aku nggak mau basa-basi. Dengerin ya perempuan nggak tahu diri, Cloud itu calon suamiku. Kamu ngapain godain dia? Apa kamu nggak punya malu? Atau karena kamu nggak laku? Apa . . .”

Plak!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zee.

“Cloud! Apa-apaan kamu? Sakit tau!” Zee mengelus pipinya yang panas.

“Kamu yang apa-apaan! Sejak kapan aku jadi calon suamimu? Hubungan kita sudah berakhir lama sekali. Dan kamu yang mengakhirinya!”

“Tapi aku waktu itu salah, Honey. Aku . . .”

“Kalian berdua tolong pergi dari rumahku. Terima kasih!” pinta Tifa sambil menangis.

“Tifa, aku bisa jelasin semuanya. Ini nggak kayak yang kamu bayangin. Dengerin aku, Tifa.”

“Tolong pergi. Aku nggak mau dengar apa-apa lagi dari kamu, Cloud. Aku.. Aku benci kamu! Jangan temui aku lagi!” Tifa membanting pintu seraya berlari ke dalam rumah. Hatinya benar-benar hancur saat itu. Cloud berdiri mematung setelah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh gadisnya itu.

“See… Puas kamu bikin orang yang ku sayang nangis?! Puas kamu lihat aku dibenci oleh kekasihku sendiri? Aarrgh! Tolong kembali ke duniamu, Zee! Dan kita sudah berakhir, jadi jangan mengaku bahwa aku ini kekasihmu atau calon suamimu lagi! It is annoying!!” Cloud pergi meninggalkan Zee yang masih mengelus pipinya.



Semenjak hari itu, Cloud tidak menampakkan batang hidungnya di depan Tifa. Tifa mengira bahwa dia telah kembali ke dunianya. Namun Cloud tidak pergi, dia masih berada di sana. Memperhatikan Tifa dari jauh, melindunginya tanpa sepengetahuannya, dan menemaninya kala ia tertidur.

Hari berlalu begitu cepat, namun Tifa masih belum bisa melupakan sosok Cloud. Sesekali ia merindukan Cloud. Ia merasa sangat kesepian tanpa Cloud.

Malam itu sepulang dari café Tifa mampir ke tempat di mana Cloud menyatakan perasaannya. Ia menangis sesampainya di sana. Mengenang semua hal yang telah terjadi. Tak dapat dipungkiri bahwa ia masih mengharapkan Cloud.

“Cloud, kamu kemana? Aku rindu. Maaf atas kata-kataku waktu itu. Aku nggak benci kamu, aku.. aku sayang kamu. Aku.. aku nggak mau kehilangan kamu.” isaknya.

“Aku juga sayang kamu dan nggak mau kehilangan kamu, Tifa. Maaf juga atas semua yang telah terjadi. Aku masih di sini, aku nggak pernah pergi.”

Tifa terkejut mendengar suara itu. Saat membalikkan tubuh, ternyata sosok yang sangat dirindukannya ada di sana.

“Cloud! Kamu kemana aja?”

“Aku nggak pernah kemana-mana, Tifa.” kemudian ia memeluk hangat tubuh gadisnya itu.

“Don’t go. Aku nggak mau sendirian lagi. Maaf waktu itu aku . . .”

Cloud mengecup bibir Tifa.

“Love you. Nggak perlu minta maaf, aku ngerti kok. Aku yang seharusnya minta maaf sudah bikin kamu nangis. Bisa kan kita mulai dari awal lagi? Aku janji kejadian seperti waktu itu nggak akan terjadi lagi, dan aku akan jagain kamu. I promise.”

“Yes, Cloud. I love you too. And promise me, don’t go.”

Malam itu jadi saksi bahwa cinta sejati tak akan terpisahkan, meskipun banyak rintangan yang menghadang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar