Cloud mencari ke segala tempat yang pernah mereka datangi,
namun tak juga ia jumpai belahan jiwanya itu. Lelah, Cloud memilih duduk di
trotoar. Seketika pusing menyerang kepalanya. Dia tak menyangka bahwa mantan
kekasihnya akan menemukannya di tempat ini. Dan juga kejadian Zee yang
menciumnya saat Tifa berada di belakangnya.
“Aaarrrgggghhh!!” erangnya.
“Honey, ayo kita pulang. Tempatmu bukan di sini. Dan lihat
penampilanmu, menjijikkan sekali!” Zee muncul seraya merangkul lengan Cloud.
“Persetan! Buat apa kamu muncul sekarang?! Aku bahagia di
sini, tolong tinggalkan aku dan jangan ganggu aku lagi!”
“I miss you, Honey. Maafin aku udah mutusin kamu waktu itu.
Ternyata aku salah. Kita mulai dari awal lagi, yah?”
“Maaf, aku nggak bisa. Tolong pergi dari sini. Aku sudah punya
kekasih dan aku bahagia bersamanya. Kembalilah, Zee. Di sini bukan tempatmu.
Dan kamu bisa mencari lelaki yang lebih dariku ini. Banyak di sana yang
tertarik padamu. Aku yakin kamu pasti bahagia juga.”
“Tapi Honey, aku sayangnya sama kamu. Bukan sama yang lain.”
“I said leave me alone!!” Cloud murka dan menghilang dari
hadapan Zee.
Zee terdiam sesaat. Tak terima diperlakukan seperti itu, dia
merencanakan sesuatu.
“Kamu kira bisa pergi dariku semudah itu, Cloud? Kekasih
katamu? Ha ha. Tak akan ku biarkan siapa pun memilikimu.”
Keesokan harinya Cloud menemui Tifa di rumahnya, namun ia
telah berangkat ke kampus lebih awal. Cloud menunggu Tifa pulang di taman dekat
kampus. Cloud melihatnya keluar dari kampus, namun ia mengurungkan niatnya
karena teringat wajah Tifa yang berlinang air mata malam itu.
Lama berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti
gadisnya itu dari jauh. Sesampainya di rumah, ada seseorang di sana.
“Permisi. Maaf, Anda siapa?” sapa Tifa ramah pada seseorang
itu.
“Kamu yang namanya Tiffani?”
“Iya, aku Tiffani. Maaf, ada perlu apa ya? Dan apa kita saling
kenal?”
“Aku nggak mau basa-basi. Dengerin ya perempuan nggak tahu
diri, Cloud itu calon suamiku. Kamu ngapain godain dia? Apa kamu nggak punya
malu? Atau karena kamu nggak laku? Apa . . .”
Plak!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zee.
“Cloud! Apa-apaan kamu? Sakit tau!” Zee mengelus pipinya yang
panas.
“Kamu yang apa-apaan! Sejak kapan aku jadi calon suamimu?
Hubungan kita sudah berakhir lama sekali. Dan kamu yang mengakhirinya!”
“Tapi aku waktu itu salah, Honey. Aku . . .”
“Kalian berdua tolong pergi dari rumahku. Terima kasih!” pinta
Tifa sambil menangis.
“Tifa, aku bisa jelasin semuanya. Ini nggak kayak yang kamu
bayangin. Dengerin aku, Tifa.”
“Tolong pergi. Aku nggak mau dengar apa-apa lagi dari kamu,
Cloud. Aku.. Aku benci kamu! Jangan temui aku lagi!” Tifa membanting pintu
seraya berlari ke dalam rumah. Hatinya benar-benar hancur saat itu. Cloud
berdiri mematung setelah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh gadisnya itu.
“See… Puas kamu bikin orang yang ku sayang nangis?! Puas kamu
lihat aku dibenci oleh kekasihku sendiri? Aarrgh! Tolong kembali ke duniamu,
Zee! Dan kita sudah berakhir, jadi jangan mengaku bahwa aku ini kekasihmu atau
calon suamimu lagi! It is annoying!!” Cloud pergi meninggalkan Zee yang masih
mengelus pipinya.
Semenjak hari itu, Cloud tidak menampakkan batang hidungnya di
depan Tifa. Tifa mengira bahwa dia telah kembali ke dunianya. Namun Cloud tidak
pergi, dia masih berada di sana. Memperhatikan Tifa dari jauh, melindunginya
tanpa sepengetahuannya, dan menemaninya kala ia tertidur.
Hari berlalu begitu cepat, namun Tifa masih belum bisa melupakan
sosok Cloud. Sesekali ia merindukan Cloud. Ia merasa sangat kesepian tanpa
Cloud.
Malam itu sepulang dari café Tifa mampir ke tempat di mana
Cloud menyatakan perasaannya. Ia menangis sesampainya di sana. Mengenang semua
hal yang telah terjadi. Tak dapat dipungkiri bahwa ia masih mengharapkan Cloud.
“Cloud, kamu kemana? Aku rindu. Maaf atas kata-kataku waktu
itu. Aku nggak benci kamu, aku.. aku sayang kamu. Aku.. aku nggak mau
kehilangan kamu.” isaknya.
“Aku juga sayang kamu dan nggak mau kehilangan kamu, Tifa.
Maaf juga atas semua yang telah terjadi. Aku masih di sini, aku nggak pernah
pergi.”
Tifa terkejut mendengar suara itu. Saat membalikkan tubuh,
ternyata sosok yang sangat dirindukannya ada di sana.
“Cloud! Kamu kemana aja?”
“Aku nggak pernah kemana-mana, Tifa.” kemudian ia memeluk
hangat tubuh gadisnya itu.
“Don’t go. Aku nggak mau sendirian lagi. Maaf waktu itu aku .
. .”
Cloud mengecup bibir Tifa.
“Love you. Nggak perlu minta maaf, aku ngerti kok. Aku yang
seharusnya minta maaf sudah bikin kamu nangis. Bisa kan kita mulai dari awal
lagi? Aku janji kejadian seperti waktu itu nggak akan terjadi lagi, dan aku
akan jagain kamu. I promise.”
“Yes, Cloud. I love you too. And promise me, don’t go.”
Malam itu jadi saksi bahwa cinta sejati tak akan terpisahkan,
meskipun banyak rintangan yang menghadang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar