Kamis, 09 Juli 2015

Kamu My Lovely

           Terik mentari terasa hangat di kulit. Kendaraan mulai merayap memadati jalanan dan kepulan asap ikut mewarnai situasi pagi ini. Arya terlihat santai mengendarai sepeda motornya. Hari ini kuliahnya Pak Bangun, nggak boleh telat. Batinnya dalam hati. Di jalan ia melihat ada bapak-bapak yang mobilnya mogok.
            “Mobilnya kenapa, Om?” tanyanya.
            “Ini mogok, Nak.” keluhnya.
            “Boleh saya bantu, Om? Saya yang dorong, Om yang setir ya?”
            “Nggak ngerepotin, Nak?”
            “Nggak kok, Om.”
            Arya menitipkan motornya di warung kenalannya, kemudian Arya membantu mendorong mobilnya bapak itu hingga sampai di bengkel terdekat.
            “Oh iya, kita belum berkenalan. Nama saya Aldo. Nama kamu siapa, Nak?” tanya bapak itu pada Arya.
            “Saya Arya, Om.” jawabnya. Kemudian mereka berdua berbincang-bincang sembari menunggu mobil Om Aldi diperbaiki. Namun…
            “Maaf, Pak. Mobilnya belum bisa dibawa sekarang. Karena kerusakannya lumayan parah. Insyaallah besok baru selesai diperbaiki.” seorang montir di bengkel itu memberitahu Om Aldo.
            “Waduh, gimana ini?” Om Aldo terlihat kebingungan.
            “Kenapa, Om?” tanya Arya.
            Kemudian Om Aldo menjelaskan perihal mobilnya yang baru bisa digunakan besok, sedangkan beliau sebentar lagi harus memimpin jalannya rapat. Sebenarnya beliau memiliki seorang sopir pribadi dan mobil lain, tetapi sopirnya harus mengantar istrinya ke suatu tempat.
            Dengan senang hati Arya menawarkan tumpangan untuk Om Aldo yang kebetulan kantornya tidak terlalu jauh dari kampus Arya.
            “Kamu nggak kuliah, Arya? Kok mau nganterin saya?” tanya Om Aldo saat di perjalanan.
            “Tenang, Om. Saya kuliah siang.” ingkarnya.
            “Oh, gitu. Terima kasih ya, Nak. Saya jadi ngerepotin dari tadi.”
“Nggak papa kok, Om. Saya senang bisa bantu Om Aldo.”
            Beberapa menit perjalan, akhirnya mereka sampai di kantor Om Aldo. Beliau sekali lagi berterima kasih kepada Arya, dan memberinya beberapa lembar uang seratus ribu. Namun Arya yang baik hati itu menolaknya dengan halus, dengan alasan dia ikhlas membantunya.
            Arya kembali ke kampus dan disaat menuju ke kelas, dia bertemu dengan Pak Bangun.
            “Kamu tadi kemana Arya?” tanya Pak Bangun.
            “Maaf, Pak. Saya kesiangan.” Arya berbohong.
            “Lain kali jangan bolos lagi!” tegurnya.
            Arya mengiyakan teguran Pak Bangun. Kemudian dia pergi menuju kelas selanjutnya yang akan dimulai 15 menit lagi. Saat melewati kelas E 205, tiba-tiba…
            Bruk!! Ada gadis yang menubruknya. Keduanya terjatuh. Gadis itu membawa banyak tumpukan kertas, hingga menutupi pandangannya.
            “Aduh, maaf Kak. Aku nggak sengaja. Maaf banget, Kak.” ucap gadis cantik itu.
            “Hati-hati dong! Pake nabrak-nabrak segala!” ucapnya ketus.
            “Iya, Kakak. Kan aku udah minta maaf.” gerutunya.
            “Lagian mau kemana sih bawa kertas banyak begitu?” Arya membantu memungut kertas-kertas yang berserakan. Dan saat dibaca ternyata itu kumpulan cerpen karyanya.
            “Makasih ya, Kak udah bantu mungut kertas-kertasku. Maaf yah tadi nggak sengaja."
"Duh, itu sikunya berdarah, Kak!” kemudian gadis itu mengajak Arya agar pindah ke bangku yang ada di depan kelas. “Tunggu sebentar yah, Kak. Jangan kemana-kemana.”
            Lalu gadis itu muncul dengan sapu tangan yang sudah dibasahi, betadine, dan plester. Dengan sabar gadis itu mengobati luka di siku Arya. Arya tercengang melihat ada gadis yang begitu perhatian padanya, padahal mereka baru bertemu. Ada perasaan yang aneh pada diri Arya. Mungkinkah?
            “Naah, sudah selesai deh. Cepet sembuh ya Kak!” gadis itu melambaikan tangan pada Arya dan pergi.
            “Makasih.” ucapnya lirih saat gadis itu sudah menghilang dari pandangan.


Just wait for the next part :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar