Terik mentari terasa
hangat di kulit. Kendaraan mulai merayap memadati jalanan dan kepulan asap ikut
mewarnai situasi pagi ini. Arya terlihat santai mengendarai sepeda motornya.
Hari ini kuliahnya Pak Bangun, nggak boleh telat. Batinnya dalam hati. Di jalan
ia melihat ada bapak-bapak yang mobilnya mogok.
“Mobilnya kenapa, Om?” tanyanya.
“Ini mogok, Nak.” keluhnya.
“Boleh saya bantu, Om? Saya yang dorong, Om yang setir
ya?”
“Nggak ngerepotin, Nak?”
“Nggak kok, Om.”
Arya menitipkan motornya di warung kenalannya, kemudian Arya membantu mendorong mobilnya bapak itu
hingga sampai di bengkel terdekat.
“Oh iya, kita belum berkenalan. Nama saya Aldo. Nama kamu
siapa, Nak?” tanya bapak itu pada Arya.
“Saya Arya, Om.” jawabnya. Kemudian mereka berdua
berbincang-bincang sembari menunggu mobil Om Aldi diperbaiki. Namun…
“Maaf, Pak. Mobilnya belum bisa dibawa sekarang. Karena
kerusakannya lumayan parah. Insyaallah besok baru selesai diperbaiki.” seorang
montir di bengkel itu memberitahu Om Aldo.
“Waduh, gimana ini?” Om Aldo terlihat kebingungan.
“Kenapa, Om?” tanya Arya.
Kemudian Om Aldo menjelaskan perihal mobilnya yang baru
bisa digunakan besok, sedangkan beliau sebentar lagi harus memimpin jalannya
rapat. Sebenarnya beliau memiliki seorang sopir pribadi dan mobil lain, tetapi
sopirnya harus mengantar istrinya ke suatu tempat.
Dengan senang hati Arya menawarkan tumpangan untuk Om
Aldo yang kebetulan kantornya tidak terlalu jauh dari kampus Arya.
“Kamu nggak kuliah, Arya? Kok mau nganterin saya?” tanya
Om Aldo saat di perjalanan.
“Tenang, Om. Saya kuliah siang.” ingkarnya.
“Oh, gitu. Terima kasih ya, Nak. Saya jadi ngerepotin
dari tadi.”
“Nggak
papa kok, Om. Saya senang bisa bantu Om Aldo.”
Beberapa menit perjalan, akhirnya mereka sampai di kantor
Om Aldo. Beliau sekali lagi berterima kasih kepada Arya, dan memberinya
beberapa lembar uang seratus ribu. Namun Arya yang baik hati itu menolaknya
dengan halus, dengan alasan dia ikhlas membantunya.
Arya kembali ke kampus dan disaat menuju ke kelas, dia
bertemu dengan Pak Bangun.
“Kamu tadi kemana Arya?” tanya Pak Bangun.
“Maaf, Pak. Saya kesiangan.” Arya berbohong.
“Lain kali jangan bolos lagi!” tegurnya.
Arya mengiyakan teguran Pak Bangun. Kemudian dia pergi
menuju kelas selanjutnya yang akan dimulai 15 menit lagi. Saat melewati kelas E
205, tiba-tiba…
Bruk!! Ada gadis yang menubruknya. Keduanya terjatuh.
Gadis itu membawa banyak tumpukan kertas, hingga menutupi pandangannya.
“Aduh, maaf Kak. Aku nggak sengaja. Maaf banget, Kak.”
ucap gadis cantik itu.
“Hati-hati dong! Pake nabrak-nabrak segala!” ucapnya
ketus.
“Iya, Kakak. Kan aku udah minta maaf.” gerutunya.
“Lagian mau kemana sih bawa kertas banyak begitu?” Arya
membantu memungut kertas-kertas yang berserakan. Dan saat dibaca ternyata itu
kumpulan cerpen karyanya.
“Makasih ya, Kak udah bantu mungut kertas-kertasku. Maaf
yah tadi nggak sengaja."
"Duh, itu sikunya berdarah, Kak!” kemudian gadis itu
mengajak Arya agar pindah ke bangku yang ada di depan kelas. “Tunggu sebentar
yah, Kak. Jangan kemana-kemana.”
Lalu gadis itu muncul dengan sapu tangan yang sudah dibasahi, betadine, dan plester. Dengan sabar gadis itu mengobati luka di siku
Arya. Arya tercengang melihat ada gadis yang begitu perhatian padanya, padahal
mereka baru bertemu. Ada perasaan yang aneh pada diri Arya. Mungkinkah?
“Naah, sudah selesai deh. Cepet sembuh ya Kak!” gadis itu
melambaikan tangan pada Arya dan pergi.
“Makasih.” ucapnya lirih saat gadis itu sudah menghilang dari pandangan.
Just wait for the next part :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar