Kamis, 09 Juli 2015

Kamu My Lovely 2

            “Arya! Ngapain duduk sendirian? Ayo masuk!” Putri membuyarkan lamunan Arya akan gadis itu.
            Saat bangkit ada sesuatu yang terjatuh dari pangkuan Arya. Ternyata sapu tangan gadis itu tertinggal. Sapu tangan berwarna biru muda yang kini di beberapa sisinya ada bercak darahnya.
            “Itu sapu tangan siapa, Ar?” tanya Putri.
            “Punyaku. Masuk, yuk!” jawabnya pendek.

            Beberapa hari kemudian ada penerimaan anggota baru di LPM FANATIK. Arya adalah salah satu anggotanya. Sebenarnya dia malas bertemu dengan anggota baru seperti ini, karena pasti banyak yang sok-sokan tebar pesona. Namun karena jabatannya sebagai wakil ketua dia akhirnya datang juga.
            Dari kerumuman anggota baru, ada salah satu anggota yang membuatnya tertarik. Siapa lagi kalau bukan gadis yang menabrak Arya waktu itu. Ada niat untuk menyapanya, namun Arya mengurungkan niatnya karena dia belum tahu namanya.
            “Tunggu sampai aku tahu namanya dulu, deh!” ucapnya dalam hati.
            Semua anggota baru diwajibkan mengisi formulir yang berisi beberapa pertanyaan seputar diri sendiri dan tentang keorganisasian. Setelah selesai mengisinya, kemudian mereka diwawancarai satu-persatu. Hingga tiba saatnya gadis itu. Entah mengapa Arya merasa gugup, namun di lain sisi dia sangat senang karena bisa bertemu dengannya lagi.
            “Salam Pers Mahasiswa! Kenalkan namaku Regina Zahrantiara Prastika. Panggil aja Gina.” ucapnya lantang.
            “Apa? Rengginang?” sahut Arya spontan dan mendapat satu pukulan keras di pahanya dari Herman, si ketua umum. “Reeegiinaaaa, Arya!”
            “Eh, aduh. Maaf maaf. Yah namanya juga orang nggak denger. Hehe, maaf yah Gina.” Arya tertawa kagok kepada Gina. Yang dituju terlihat menarik nafas dan memutar bola matanya.
           
            Akhirnya sesi wawancara selesai juga. Mentari mulai condong ke arah barat. Terlihat Gina berjalan sendirian menuju gerbang kampus.
            “Hay Rengginaaang! Eh salah, Gina maksudnya. Hehe. Sendirian? Mau aku antar?” sapa Arya jahil.
            “Dih, Kakak nyebelin. Nggak, usah Kak. Aku dijemput, kok. Makasih ya tawarannya. Ohya, luka Kakak sudah sembuh?” tanya Gina. Ternyata dia masih mengingat Arya dan kejadian waktu itu.
            “Udah, kok! Makasih juga ya waktu itu udah mau ngobatin aku. Ohya, sapu tanganmu ada di rumahku. Aku cuci karena ada darahku di sana.”
           “Sama-sama. Maaf yah waktu itu nabrak Kakak sampai luka begitu. Soal sapu tangan itu woles aja, Kak.” ujarnya dengan tersenyum manis, membuat jantung Arya berdegup kencang. “Ohya, aku udah dijemput. Aku duluan ya, Kak Arya.”
            Arya melambai ke arah Gina pergi. Melihat mobilnya, Arya merasa tak asing, seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Mungkinkah?

            Malamnya Arya terus memikirkan Gina. Dia menimang sapu tangan miliknya yang kini sudah bersih dari noda darah.  Ibunya memperhatikan tingkah putra sulungnya yang senyum-senyum sendiri.
            “Mau senyum-senyum sendiri sampai kapan, Arya?” ucapan Ibunya mengagetkannya.
    “Duh, Ibu ngagetin aja! Arya nggak senyum-senyum sendiri kok!” kemudian Arya menyembunyikan sapu tangan biru itu di bawah bantal.
            “Mau bohongin, Ibu? Kamu sedang jatuh cinta, ya? Ini kali pertama Ibu melihatmu seceria ini setelah kamu putus dengan Vira.” ucap Ibu sambil menghampiri Arya di tempat tidurnya.
            “Mungkin, Bu. Tapi Arya nggak yakin juga. Lagian kita juga baru ketemu dan baru tadi sore Arya tahu namanya. Dan tadi gadis itu nggak sengaja sudah Arya buat kesal, Bu. Hahaha.” kemudian Arya menceritakan kejadian saat wawancara tadi dan juga saat mereka pertama kali bertemu. Ibu tersenyum melihat putra sulungnya kembali ceria seperti semula.
            “Ibu senang kamu bisa ceria lagi, Sayang.” Ibu mengelus kepala Arya.
            “Menurut Ibu apa Arya jatuh cinta sama Gina?” tanyanya.
         “Seiring dengan berjalannya waktu kamu pasti tahu sendiri.” Ibu tersenyum kemudian pergi menuju kamar adiknya yang bersebelahan dengan kamarnya.
            “Gina, mungkin aku bener-bener jatuh cinta sama kamu.” ucapnya sebelum terlelap.
           
          Di ruang kesekretariatan, Arya melihat Herman sedang sibuk membaca sebuah kertas. Ternyata pengumuman hasil wawancara anggota baru LPM FANATIK sudah keluar. Arya langsung mencari nama Gina. Ternyata dia lolos! Perasaan senang semakin membuncah di dadanya.
         “Lu ngapa dah? Seneng banget romannya? Lu kepincut sama anggota baru, yah? Wah wah, rekor jomblo lu bakal pecah kayaknya. Hahaha. Siapa sih, Ar?” goda Herman.
            “Sotoy, lu!”
        “Jangan jangan, cewek yang waktu itu? Siapa ya namanya? Re.. Re.. Nah ketemu! Regina Zahrantiara Prastika. Ya kan, Ar? Gue sahabatlu, Ar! Masih mau bohong?”
            “Emang kelihatan banget ya kalo gue lagi jatuh cinta?” tanyanya polos.
          “Tingkahlu beda, Boy. Lu ceria banget semenjak ketemu cewek itu. Ya gue nebak-nebak aja sih sebenernya. Emang lu beneran kesemsem sama Gina?”
        Akhirnya Arya menceritakan kejadian awal bertemu dengan Gina pada Herman. Herman tersenyum bungah mendengar cerita Arya. Dia bangga bahwa akhirnya Arya mau membuka hatinya lagi.
         Setelah selesai menceritakan dan mendengar ceramah Herman yang pada intinya senang melihat Arya kembali ceria dan bisa jatuh cinta lagi, ia kembali ke kelas dengan wajah yang sangat ceria.
           “Put, Arya kenapa tuh? Seneng banget kelihatannya. Kalian udah jadian?” tanya Rama pada Putri.
           “Nggak! Dia ngedeketin aku aja nggak pernah, boro-boro jadian!” sungutnya. Saat hendak bertanya pada Arya, Pak Bangun telah tiba. Jadi ia menunda niatnya itu.
            Pelajaran berakhir 90 menit kemudian, saat ada jeda istirahat Arya memanfaatkannya untuk shalat di masjid kampus dan mengisi perutnya yang kosong di kantin. Di kantin ia bertemu dengan Putri dan Rama. Mereka berdua sudah dianggap sahabat oleh Arya, walau terkadang ia sering minder jika bersama mereka. Mereka adalah anak konglomerat kaya raya, sedangkan Arya yang telah yatim itu hanyalah hidup dengan usaha catering ibunya dan dengan gajinya sebagai penulis tetap di sebuah koran terkenal.
             “Arya, sini!” ajak Putri menunjuk ke bangku kosong di depannya.
            “Kamu mau pesen apa, Ar? Aku beliin yah?” Putri menawari Arya.
            “Nggak usah, Put. Makasih. Aku bawa duit kok.” tolaknya dengan halus.
           Kemudian Arya memesan nasi pecel, dan setelah pesanannya selesai Arya kembali ke mejanya. Saat hendak menyendok nasinya, ia melihat Gina tak jauh dari tempatnya sedang kebingungan mencari meja kosong.
           “Gina! Sini!” Arya melambai pada Gina. Kemudian Gina menghampirinya dengan bawaan yang lumayan banyak.
            “Boleh aku duduk di sini, Kak?” tanyanya.
            “Boleh kok. Santai aja.” lalu Gina duduk di sebelah Arya. “Ohya, guys kenalin ini juniorku di FANATIK.”
            “Kamu kecil-kecil makannya banyak juga ya?” Arya baru menyadari bahwa makanan yang dibawa Gina lebih banyak daripada miliknya. Gina hanya tersenyum malu.
            “Kak Arya, aku lolos tes wawancara, lho.” ucapnya sambil tersenyum manis.
            “Oh ya? Selamat, ya. Hebat deh bisa lolos.” Arya berpura-pura terkejut dengan ucapan Gina. Kemudian mereka melanjutkan obrolan tentang FANATIK, Arya terlihat lebih banyak mengobrol dengan Gina, membuat Putri jengkel dan cemburu. Begitu pun Rama. Rama tampaknya menaruh hati pada Gina.
            “Mmh, Gina balik duluan yah, Kak. Makasih. Maaf jadi ganggu kalian bertiga.”
       “Nggak kok, Gin. Kita nggak merasa terganggu. Kalau kamu nggak nemu tempat duduk, langsung cari aku aja. Eeh maksudku, cari kita aja.” sahut Rama bersemangat.
        “Iya, makasih sekali lagi. Gina pamit yah. Daah kakak-kakak.” gadis itu melambai kepada mereka bertiga.
            “Cakep banget tuh cewek. Lu punya nomer handphonenya nggak, Ar?” tanya Rama.
        “Nggak.” Arya cemburu melihat tingkah Rama yang seperti itu terhadap Gina. “Guys, aku duluan. Ada perlu.”
            Putri sangat kecewa siang itu dengan sikap Arya yang seakan-akan tidak menggubrisnya.

       Acara Pra-dikalat FANATIK akhirnya tiba. Semua anggota baru yang telah lolos seleksi berkumpul dan membawa tugas yang diberikan waktu itu. Dari semua anggota, terlihat Gina yang membawa barang paling banyak. Arya ingin tertawa namun tidak jadi karena takut menyinggungnya.
            Acaranya berjalan lancar. Dan Arya mulai mengetahui seperti apa gadis pujaannya itu setelah seharian bersama dengannya. Tak luput Arya juga memperhatikan anggota baru yang lain untuk dinilai, meskipun lebih banyak tersita pada Gina. Waktu ishoma telah tiba, semuanya beristirahat untuk shalat dan makan siang. Herman dan Arya mendekati kerumuman anggota baru yang di dalamnya ada Gina.
         “Kamu kecil-kecil makannya banyak juga ya, Gin?” tanya Herman sembari untu menggodanya. Arya tertawa mendengarnya.
          “Ih, ketua sama wakil sama aja. Gina makan banyak biar sehat, Kak.” gerutunya.
        “Nggak takut gendut? Biasanya cewek kan takut gendut, ya nggak Ren?” Herman bertanya pada Reni yang duduk di sebelahku. Reni hanya nyengir kuda.
          “Nggak. Masih bisa makan enak aja udah alhamdulillah, Kak. Makanan itu rezeki, nggak boleh ditolak dan kita juga nggak boleh milih-milih. Di luar sana banyak yang pengen makan kayak kita tapi nggak bisa karena kondisi ekonomi mereka.” ungkapnya Gina gemas dengan pertanyaan Herman.

    “Oh.. Ciee jiwa sosialisnya keluar. Ohya, Gina udah punya pacar?” lagi-lagi Herman menggodanya. Arya kaget dengan pertanyaan Herman. Karena ia juga belum tahu apakah gadis pujaannya itu masih jomblo atau nggak.

So, apa Gina jomblo? Atau sudah punya kekasih? Ditunggu aja yah kelanjutannya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar