Keesokan
harinya, aku mendapat BBM mengejutkan dari temanku.
“Ti, Faqih meninggal ya?”
“Kaga! Kata siapa? Semalem dia
baik-baik aja kok! Jangan ngasih berita sembarangan!”
“Ya maaf, aku kan tau dari
temen-temen yang lain.”
“Tunggu aku tanya yang lain. Pastiin
dulu beritanya bener apa nggak!”
Jantungku berdegup kencang membaca
BBM itu. Aku memastikan kebenaran hal itu. Semua teman-teman ku hubungi, namun
mereka bilang tak tahu soal berita itu. Hingga akhirnya, aku mengetahui bahwa
berita itu ternyata benar.
Kakiku lemas, hingga tak bisa
menopang badanku. Aku terjatuh lemas, HPku terbanting keras ke lantai. Mama
yang kaget mendengarnya segera menghampiriku, Mama berteriak memanggil Papa.
Mereka berdua menanyakan apa yang terjadi hingga aku seperti ini.
Aku menangis menceritakan berita
duka itu. Aku memeluk Mama erat, Mama hanya bisa menenangkanku, tak tahu harus
bagaimana. Lalu Papa menghubungi Ardi untuk datang ke rumah, mengantarkan aku ke
rumah Faqih. Karena Papa tahu kondisiku sedang labil, sehingga akan berbahaya jika
aku mengendarai motor sendirian.
Ardi datang dengan terburu-buru,
dia juga telah mendengar kabar tentang Faqih.
Dia mencoba menenangkanku, dan mengajakku ke rumah Faqih. Dia melajukan motornya pelan, masih berusaha untuk menghiburku. Aku menghargai
usahanya, jadi aku berhenti menangis. Tak dapat dipungkiri bahwa Ardi juga
merasa sangat kehilangan Faqih.
Sesampainya di rumah Faqih, ternyata
telah banyak teman-temanku yang datang. Ardi menyuruhku untuk berkumpul
bersama teman-teman perempuanku yang lain. Dia mengacak-acak kerudungku sambil
berkata, “Sayangku kuat, jangan nangis lagi. Allah sayang sama Faqih, jadi
Faqih dipanggil untuk menghadap-Nya biar dia nggak tersiksa sama penyakitnya.
Percaya hal itu, Sayang. Biar kamu nggak terus-terusan sedih.”
Aku mengangguk, namun masih tak bisa
menahan air mataku kala melihat halaman rumah Faqih. Jenazah Faqih masih dalam
perjalanan dari Surabaya. Aku melihat sekeliling, banyak yang datang. Teman
satu kelas, teman satu sekolah, teman basketnya, dan guru-guru kami pun
berdatangan memenuhi halaman rumahnya.
Masih terngiang dengan jelas ucapan
Faqih dimana ia ingin pulang hari ini. Mungkin yang dimaksud pulang adalah
kembali ke pangkuan Ilahi. Kemarin dia terlihat sembuh sebagai ucapan selamat
tinggal agar aku tidak sedih sebelum ditinggalkannya. Allah Maha Besar, hanya
kepada-Mu lah kami serahkan hidup dan mati.
Pukul 13.05 jenazah Faqih datang
bersama dengan keluarganya. Tangis pun pecah. Saat jenazah dimasukkan ke dalam
rumah, banyak yang ingin melihatnya. Mereka berdesak-desakan. Aku yang berada
di depan jenazah hanya terdiam mematung melihat sosok yang ku sayang terbujur
kaku tak bernyawa. Hampir aku pingsan, jika Ardi tak segera menopang badanku
dan menyuruhku untuk duduk dan minum. Aku menyandarkan kepalaku yang pusing di
bahu kekasihku.
Guruku mengomando untuk mengaji
yasin. Aku mengaji sambil menangis tersedu-sedu. Tak dapat ku bending lagi air
mata ini melihat sosok di depanku ini. Tak ada lagi sosok sepertinya yang akan
menjadi tempat curhatku dikala aku sedang bertengkar dengan Ardi, tak ada lagi
yang akan menemuiku di rumah bersama Ardi, tak ada lagi yang akan memanggilku
dari seberang jendela kelasnya. Harapanku untuk bisa terus bersamanya ternyata
tak bisa terwujud. Allah punya rencana lain yang lebih indah, yaitu memanggil
Faqih untuk berada di sisi-Nya.
Terlihat Umik pingsan beberapa kali
kala melihat sosok anak bungsunya. Aku tak tega melihatnya seperti itu. Aku
hanya tertunduk memanjatkan doa untuk Faqih. Beberapa menit kemudian, jenazah
dimandikan oleh keluarga dan dishalati. Setelah semua persiapan selesai,
jenazah di bawa ke pembaringan terakhirnya. Ardi melarangku untuk ikut, aku
menurut. Karena aku tahu, aku tak akan mampu melihatnya dikuburkan.
Aku menghapiri Umik yang terbaring
di kamarnya. Aku memeluknya erat, sambil menenangkannya. Umik terlihat tak
berdaya. Aku mengerti apa yang dirasakannya. Karena selama ini yang akan
merawat Umik sakit adalah Faqih, karena kakak sulung Faqih sedang kuliah di
luar kota.
Umik menyuruhku pulang karena sudah
sore. Aku mengiyakan dan berjanji akan tetap menjenguk Umik, karena aku telah
menganggapnya sebagai ibuku sendiri. Langkahku gontai saat Irvan mengajakku
pulang. Tiba-tiba aku pingsan. Di sana aku mendengar seseorang memanggil-manggil
namaku.
“Tia.. Tia.. Ti.. Tia..?”
Aku tersadar dari lamunanku.
Ternyata itu semua hanyalah flash back. Aku masih terduduk di depan pusara
Faqih. Yang memanggil namaku ternyata Ardi. Dia terlihat cemas melihatku melamun
dari tadi.
“Sayang nggak papa, kan? Aku
khawatir, karena dari tadi kamu diam.”
“Iya, maaf. Aku cuma ingat sama
almarhum.”
“Pulang, yuk! Udah hampir maghrib.
Nanti orang tuamu mikir aku nyulik kamu.”
“Pamitan dulu sama Faqih. Faqihul
Muqoddam, sahabatku yang sudah dipanggil Allah, kami pamit, ya. Doa kami selalu
buat kamu. Kamu tenang aja, aku selalu jagain Umik. Assalamualaikum ya ahlil
kubur.”
“Pamit, Bro. Aku bakal selalu ingat
nasihatmu buat selalu jagain Tia.”
Cerpen ini ku persembahkan untuk mengenang sahabtku yang telas pergi menghadap Ilahi. Faqihul Muqoddam. Kamu sahabat terbaikku, aku tak akan pernah melupakanmu. Dulu, aku sering mengolok-olokmu, curhat, dan bahkan pernah bermusuhan. Tapi kini yang ku bisa hanya melihat fotomu dan berdoa untuk kebaikanmu di sana.
Terima kasih, kamu masih datang ke mimpiku waktu itu dengan senyuman khasmu :)
Semoga kau tenang di sana, Qih. We Love You :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar