Kamis, 08 Januari 2015

Tak Kan Terganti Last Part

            Keesokan harinya, aku mendapat BBM mengejutkan dari temanku.

            “Ti, Faqih meninggal ya?”

            “Kaga! Kata siapa? Semalem dia baik-baik aja kok! Jangan ngasih berita sembarangan!”

            “Ya maaf, aku kan tau dari temen-temen yang lain.”

            “Tunggu aku tanya yang lain. Pastiin dulu beritanya bener apa nggak!”

            Jantungku berdegup kencang membaca BBM itu. Aku memastikan kebenaran hal itu. Semua teman-teman ku hubungi, namun mereka bilang tak tahu soal berita itu. Hingga akhirnya, aku mengetahui bahwa berita itu ternyata benar.

            Kakiku lemas, hingga tak bisa menopang badanku. Aku terjatuh lemas, HPku terbanting keras ke lantai. Mama yang kaget mendengarnya segera menghampiriku, Mama berteriak memanggil Papa. Mereka berdua menanyakan apa yang terjadi hingga aku seperti ini.

        Aku menangis menceritakan berita duka itu. Aku memeluk Mama erat, Mama hanya bisa menenangkanku, tak tahu harus bagaimana. Lalu Papa menghubungi Ardi untuk datang ke rumah, mengantarkan aku ke rumah Faqih. Karena Papa tahu kondisiku sedang labil, sehingga akan berbahaya jika aku mengendarai motor sendirian.

          Ardi datang dengan terburu-buru, dia juga telah mendengar kabar tentang Faqih.  Dia mencoba menenangkanku, dan mengajakku ke rumah Faqih. Dia melajukan motornya pelan, masih berusaha untuk menghiburku. Aku menghargai usahanya, jadi aku berhenti menangis. Tak dapat dipungkiri bahwa Ardi juga merasa sangat kehilangan Faqih.

      Sesampainya di rumah Faqih, ternyata telah banyak teman-temanku yang datang. Ardi menyuruhku untuk berkumpul bersama teman-teman perempuanku yang lain. Dia mengacak-acak kerudungku sambil berkata, “Sayangku kuat, jangan nangis lagi. Allah sayang sama Faqih, jadi Faqih dipanggil untuk menghadap-Nya biar dia nggak tersiksa sama penyakitnya. Percaya hal itu, Sayang. Biar kamu nggak terus-terusan sedih.”

         Aku mengangguk, namun masih tak bisa menahan air mataku kala melihat halaman rumah Faqih. Jenazah Faqih masih dalam perjalanan dari Surabaya. Aku melihat sekeliling, banyak yang datang. Teman satu kelas, teman satu sekolah, teman basketnya, dan guru-guru kami pun berdatangan memenuhi halaman rumahnya.

         Masih terngiang dengan jelas ucapan Faqih dimana ia ingin pulang hari ini. Mungkin yang dimaksud pulang adalah kembali ke pangkuan Ilahi. Kemarin dia terlihat sembuh sebagai ucapan selamat tinggal agar aku tidak sedih sebelum ditinggalkannya. Allah Maha Besar, hanya kepada-Mu lah kami serahkan hidup dan mati.

            Pukul 13.05 jenazah Faqih datang bersama dengan keluarganya. Tangis pun pecah. Saat jenazah dimasukkan ke dalam rumah, banyak yang ingin melihatnya. Mereka berdesak-desakan. Aku yang berada di depan jenazah hanya terdiam mematung melihat sosok yang ku sayang terbujur kaku tak bernyawa. Hampir aku pingsan, jika Ardi tak segera menopang badanku dan menyuruhku untuk duduk dan minum. Aku menyandarkan kepalaku yang pusing di bahu kekasihku.

            Guruku mengomando untuk mengaji yasin. Aku mengaji sambil menangis tersedu-sedu. Tak dapat ku bending lagi air mata ini melihat sosok di depanku ini. Tak ada lagi sosok sepertinya yang akan menjadi tempat curhatku dikala aku sedang bertengkar dengan Ardi, tak ada lagi yang akan menemuiku di rumah bersama Ardi, tak ada lagi yang akan memanggilku dari seberang jendela kelasnya. Harapanku untuk bisa terus bersamanya ternyata tak bisa terwujud. Allah punya rencana lain yang lebih indah, yaitu memanggil Faqih untuk berada di sisi-Nya.

         Terlihat Umik pingsan beberapa kali kala melihat sosok anak bungsunya. Aku tak tega melihatnya seperti itu. Aku hanya tertunduk memanjatkan doa untuk Faqih. Beberapa menit kemudian, jenazah dimandikan oleh keluarga dan dishalati. Setelah semua persiapan selesai, jenazah di bawa ke pembaringan terakhirnya. Ardi melarangku untuk ikut, aku menurut. Karena aku tahu, aku tak akan mampu melihatnya dikuburkan.

      Aku menghapiri Umik yang terbaring di kamarnya. Aku memeluknya erat, sambil menenangkannya. Umik terlihat tak berdaya. Aku mengerti apa yang dirasakannya. Karena selama ini yang akan merawat Umik sakit adalah Faqih, karena kakak sulung Faqih sedang kuliah di luar kota.

         Umik menyuruhku pulang karena sudah sore. Aku mengiyakan dan berjanji akan tetap menjenguk Umik, karena aku telah menganggapnya sebagai ibuku sendiri. Langkahku gontai saat Irvan mengajakku pulang. Tiba-tiba aku pingsan. Di sana aku mendengar seseorang memanggil-manggil namaku.

            “Tia.. Tia.. Ti.. Tia..?”

           Aku tersadar dari lamunanku. Ternyata itu semua hanyalah flash back. Aku masih terduduk di depan pusara Faqih. Yang memanggil namaku ternyata Ardi. Dia terlihat cemas melihatku melamun dari tadi.

            “Sayang nggak papa, kan? Aku khawatir, karena dari tadi kamu diam.”

            “Iya, maaf. Aku cuma ingat sama almarhum.”

            “Pulang, yuk! Udah hampir maghrib. Nanti orang tuamu mikir aku nyulik kamu.”

            “Pamitan dulu sama Faqih. Faqihul Muqoddam, sahabatku yang sudah dipanggil Allah, kami pamit, ya. Doa kami selalu buat kamu. Kamu tenang aja, aku selalu jagain Umik. Assalamualaikum ya ahlil kubur.”

            “Pamit, Bro. Aku bakal selalu ingat nasihatmu buat selalu jagain Tia.”

            Angin semilir mengikuti langkah kami meninggalkan pemakaman. Seperti hendak mengatakan hati-hati di jalan.





            Cerpen ini ku persembahkan untuk mengenang sahabtku yang telas pergi menghadap Ilahi. Faqihul Muqoddam. Kamu sahabat terbaikku, aku tak akan pernah melupakanmu. Dulu, aku sering mengolok-olokmu, curhat, dan bahkan pernah bermusuhan. Tapi kini yang ku bisa hanya melihat fotomu dan berdoa untuk kebaikanmu di sana.
            Terima kasih, kamu masih datang ke mimpiku waktu itu dengan senyuman khasmu :)
            Semoga kau tenang di sana, Qih. We Love You :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar