Kamis, 08 Januari 2015

Tak Kan Terganti Part II

            “Siapa?” tanyaku penasaran.

            “Sama …” lagi-lagi dia tak melanjutkan kata-katanya.

            “Siapa, Qih?” aku semakin penasaran.

            “Sama Rahma, Ti.” jawabnya malu-malu.

         “Haah? Rahma teman sekelas? Nggak salah?” tanyaku tak percaya. Rahma terkenal dengan sifat “gonta-ganti” pacar. Hampir seluruh sekolah tahu akan sifatnya. Tapi untunglah dia tidak mengatakan menyukaiku.

         “Kenapa, Ti? Aku nggak lihat dia seperti teman-teman lihat dia. Aku yakin dia orang yang baik.” sahutnya penuh keyakinan.

            “Oh. Ya sudah kalau kamu memang yakin dia gitu. Deketin, gih! Mumpung sudah putus sama Rifki.” ucapku.

           “Doain ya, Ti. Aku bakal bikin dia berubah. Aku harap bisa buat dia berhenti dari sifat jeleknya itu.” Faqih benar-benar bersemangat dengan tekadnya.

            “Aamiin.” aku mengamini tekadnya. Kemudian kami kembali ke kelas karena bel masuk telah berbunyi. Selama di kelas, Faqih terus bercerita tentang ketertarikannya pada Rahma di sela-sela pelajaran. Aku hanya mendengarkan sambil mengerjakan tugas matematika dari Bu Sosi. Sebenarnya aku nggak terlalu suka jika Faqih harus jatuh cinta sama Rahma. Karena sifatnya yang sering bergonta-ganti pasanganlah yang paling membuatku tidak terlalu menyukainya. Tapi aku juga tidak punya hak apa-apa untuk melarangnya. Yah, semoga saja apa yang dikatakan Faqih tentang Rahma benar. Semoga.



            Tak terasa, ujian nasional sudah dekat. Semuanya bersiap-siap, baik persiapan rohani maupun jasmani. Pihak sekolah pun telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung kesuksesan murid-muridnya. Doa dari Papa dan Mama juga selalu dipanjatkan untuk kesuksesanku.

            Dan akhirnya, hari yang dinantikan oleh seluruh siswa SMP se-Indonesia pun tiba. Tanggal 25 April adalah hari pertama UN. Mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia. Aku dapat mengerjakannya dengan lancar. Begitu pun untuk hari-hari selanjutnya. Hingga akhirnya selesailah sudah masa-masa mencekam, namun aku dapat melaluinya dengan lancar. Alhamdulillah.

            Liburan panjang pun tiba, tetapi tidak sepenuhnya aku bisa berlibur. Karena masih harus menyiapkan dokumen-dokumen untuk mendaftar ke SMA. Yang ku lakukan selama liburan hanyalah membantu Mama di rumah dan bersepeda ria bersama Faqih. Banyak yang mengira kami adalah sepasang kekasih karena melihat kedekatan kami. Tetapi percayalah, rasa ini hanyalah rasa sayangku ini hanyalah perasaan terhadap seorang sahabat saja. Tidak lebih.

            Besok adalah hari diumumkannya hasil kelulusan. Perasaan tak karuan menghinggapiku. Mama cemas melihatku gelisah, “Sayang, nggak usah cemas. Mama yakin kamu lulus dengan nilai yang memuaskan.”

            “Anak Papa kan pinter, pasti bisa kok!” sambung Papa.

           “Aamiin. Makasih supportnya, Ma, Pa.” kemudian aku bergegas masuk ke dalam kamarku dan mencoba untuk tidur.



            Keesokan harinya …
           
            “Siap denger pengumuman?” Faqih menyapaku di depan kelas.

            “Insyaallah. Jam 8 kan pengumumannya?”

            “Yup. Yuk langsung ke Graha, kita nunggu di sana aja.”

          Di perjalanan menuju Graha, Faqih mendominasi pembicaraan. Topik yang dibahas tak lain dan tak bukan adalah Rahma. Aku hanya mengangguk-angguk mendengarnya bercerita dengan sangat antusias.

        Sesampainya di Graha, kami bertemu dengan Rahma. Aku pun mengajaknya untuk duduk bersama kami. Faqih tampak senang sekali, namun tak bisa dipungkiri dia juga gugup. Semoga kamu bisa bahagia, Qih. Ucapku dalam hati.

          Kini tiba saatnya bagi Kepala Sekolah mengumumkan kelulusan kami. Semua diam menyimak. Aku menggenggam tanganku erat, dentuman jantungku berdetak semakin kencang. Tak habis-habisnya aku berdzikir dan bershalawat.

            “Bismillahirrohmanirrohim. Amplop ini Bapak buka sekarang. Semoga kalian diberikan yang terbaik oleh Allah SWT.” Pak Roib membuka pidatonya.

          “Dengan surat ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sampang menyatakan bahwa seluruh siswa SMPN 1 Sampang dinyatakan lulus 100%”

            Kebisuan itu pun pecah setelah Pak Roib membacakan surat keputusan. Tangis haru tak luput mewarnai ekspresi kegembiraan teman-temanku. Segera aku memberi kabar kepada Mama dan Papa melalui BBM.

            Setelah pengumuman kelulusan, aku memutuskan untuk langsung pulang. Aku melihat Faqih masih bersama Rahma. Karena tak ingin mengganggu kesenangan Faqih, aku memutuskan untuk pulang sendirian.

            Hari-hari berikutnya Faqih tak menampakkan batang hidungnya. Tak ada kabar satu pun darinya. Sempat ada rasa kesal di hati, namun aku berpikir lagi bahwa mungkin dia sedang berusaha untuk mendapatkan perhatian Rahma.

            “Sudah seminggu Mama nggak ketemu Faqih. Kalian tengkar?”

            “Nggak kok, Ma. Faqih lagi PDKT sama Rahma mungkin.”

            “Cemburu?”
            “Mama ngeledek, deh. Kan aku udah bilang kalau  kita cuma sahabatan aja.”

            “Iya.. Iya.. Mama bercanda kok, Sayang.” Mama berlalu sambil tertawa.

        Keesokan harinya Faqih muncul. Dia datang ke rumah pagi-pagi sekali dengan wajah sumringah.

            “Ti.. Aku mau cerita.” ucapnya.

            “Ya.”

            “Kok cuek, Ti?”

            “Nggak. Nggak cuek, kok. Cuma lagi kesel aja ada yang ngelupain aku gara-gara udah deket sama gebetannya.”

            “He he. Ya maaf, Ti. Namanya juga lagi jatuh cinta. Gini lho, Ti . . .”

            Setelah selesai menceritakan semua yang dirasakan dan dialaminya, Faqih pun pamit pulang. Aku senang melihat ada kemajuan untuk bisa mendapatkan hati Rahma. Semoga saja mereka bisa bersatu.


           
            Dan kini adalah awal MOS di SMAku. Tak terasa ternyata aku sudah SMA. Yang paling tak terduga adalah Faqih, Rahma, dan aku satu kelas lagi. Mungkin ini yang dinamakan jodoh, pikirku.

            Seminggu setelah MOS, Faqih memberitahukan bahwa dia telah berpacaran dengan Rahma. Mereka tampak bahagia. Aku pun begitu, telah menemukan tembatan hati. Dia adalah Ardi, siswa kelas sebelah.

            Takdir memang tak ada yang tahu. Siapa yang akan mengira bahwa hubungan Faqih dan Rahma hanya bertahan 5 bulan saja. Aku sangat marah mendengar kabar itu. Penyebabnya adalah Rahma berselingkuh dengan mantan kekasihnya. Ternyata perkiraan awalku memang benar, seorang Rahma tak akan pernah bisa berubah.

            Aku melihat perubahan yang sangat drastis dari Faqih. Kini tubuhnya semakin kurus, kantung matanya semakin menghitam, dan dia tak seceria dulu. Dia pun sering mengeluh pusing dan badannya lemas hingga harus meminum multivitamin setiap hari. Aku menceritakan hal ini pada kekasihku, dan memintanya untuk menghibur Faqih karena mungkin Ardi lebih mengerti bagaimana perasaan seorang lelaki itu.

            “Aku kasian sama Faqih, Ar.”

            “Iya, aku ngerti gimana perasaanmu. Nanti aku coba buat hibur dia. Kamu jangan ikutan sedih dong, Sayang.”

           
            Setahun kemudian, Faqih, Rahma, dan aku pisah kelas. Aku bersyukur karena dengan hal ini mungkin bisa membuat sakit hati Faqih sedikit membaik. Faqih mulai ceria lagi, meskipun tak seperti dulu, tapi setidaknya tak ada wajah murung yang menghiasi wajahnya. Tetapi dia mulai jarang pergi ke rumahku, mungkin karena ada Ardi.

            “Qihul, kok sekarang jarang main ke rumah?” tanyaku saat menghampirinya yang sedang mengerjakan soal matematika.

            “Sibuk, Ti. Biasa, artis dadakan. Ha ha.”

            “GRnya.”

        “Ha ha. Kenapa? Lagian kan udah ada Ardi, Ti? Masih kurang sama satu lelaki? Ih, kamu nggak chili-chilian, kan?”

            “Jidatmu, Qih! Sembarangan aja!”

            “Ulala, ngambek ciee. Iya nanti malam aku ke rumahmu. Ardil ke sana juga, nggak?”

            “Iya, mau tanya PR Bahasa Inggris katanya. Yaudah, aku balik dulu. Awas ya kalo nggak ke rumah!” aku mengepalkan tanganku di depan wajah Faqih. Dia hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku.

           
            Malamnya, Faqih benar-benar pergi ke rumah. Malam ini aku sendirian, karena Mama pergi bersama Papa menjenguk Tante yang baru lahiran. Tapi untunglah ada dua lelaki yang sudah dipercaya oleh orang tuaku untuk menjagaku.

            “Aku kok masih sering pusing sekarang ya?” tanya Faqih di sela-sela perbincangan.

        “Perlu sentuhan wanita tuh, Qih.” Ard. menimpali seraya tertawa terbahak-bahak. Aku mencubit lengannya karena menjawab seperti itu.

            “Udah periksa?” tanyaku.

            “Belum sih, tapi mungkin karena aku kecapekan, Ti. Usulanmu ada benernya juga tuh, Ar. Ha ha.”

            “Dasar laki-laki”. gerutuku dalam hati.


            Mereka menemaniku sampai kedua orang tuaku pulang. Jam menunjukkan pukul 22.05, dan orang tuaku pun tiba.

            “Tuh Mama sama Papa!” seru Ardi.

            “Aku pamit ya, Ti.” ucap Faqih.


            “Aku juga.” Ardi pun mengikuti Faqih.

            “Iya. Tunggu Mama sama Papa masuk dulu, dong. Sekalian kalian pamitan sama mereka.” sahutku.

            “Assalamualaikum. Lho, kalian belum pulang?” tanya Papa.

            “Waalaikumsalam. Kita nungguin Oom sama Tante. Kasian Tia kalau sendirian, Om. Maaf kalau kami belum pulang jam segini.” kata Ardi.

            “Oh, nggak papa, Nak. Malah Oom mau berterima kasih sama kalian sudah mau menemani Tia dan menunggu Oom dan Tante pulang.”

            “Kami pamit dulu, Om, Tan. Pulang ya, Ti.” pamit Faqih.

            “See you.” Ardi berkedip nakal kepadaku.

        
            Lanjut part selanjutnya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar