Angin semilir membelai wajahku
lembut. Aku terduduk di sebuah kuburan dengan batu nisan bertuliskan nama
seseorang yang sangat ku rindukan. Faqihul Muqoddam, sosok yang tak akan pernah tergantikan. Sudah sembilan
bulan tubuhnya tertidur sendiri di bawah gundukan tanah ini. Penyakit kanker
darah yang diidapnya tak dapat membuatnya hidup lama. Tiba-tiba ingatan tentang
awal perkenalan kami muncul di benakku.
Hari itu awal semester baru, aku
telah menginjak tingkatan terakhir jenjang SMP. Kala itu aku masuk di kelas
IX-H dan wali kelasku menempatkanku bersama seorang lelaki yang asing
menurutku. Dengan tampang cuek, aku duduk di sebelahnya. Selama wali kelas
menjelaskan tata tertib kelas, lelaki di sebelahku ini menatapku. Karena risih,
aku melabraknya.
“Apa sih, liat-liat?” tegurku
padanya.
“Hehe. Kenalan, dong? Masa sebangku
nggak saling kenal?” jawabnya cengengesan.
Aku tak menjawab pertanyaannya dan
kembali fokus mendengarkan apa yang diucapkan wali kelas. Kemudian, bel
istirahat berbunyi. Hampir seisi kelas berlari berhamburan menuju kantin yang
jaraknya tidak jauh dari kelasku. Memang dari dulu aku tidak terlalu suka
menghabiskan uangku untuk sekedar membeli snack di kantin. Aku selalu menghemat
uang jajanku agar bisa ku tabung. Sambil mengisi waktu kosong selama istirahat,
aku membaca novel yang baru ku beli. Judulnya “Kamu yang Terbaik”. Saat khusuk
membaca, tiba-tiba ada yang menarik bukuku.
“Eh..!” pekikku.
“Khusuknyaaa…” ternyata orang itu
lelaki yang jadi teman sebangkuku.
“Balikin, nggak?! Kamu tuh dari tadi
iseng banget, ya?!” aku kesal terhadap tingkahnya.
“Kenalan dulu, baru aku balikin.
Oke? Aku Faqihul Muqoddam. Panggil aja Faqih. Kamu siapa?” lelaki yang namanya
Faqih itu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
“Aku Tia Aprilianti Putri. Panggil
aja Tia. Sini balikin bukuku!” aku meminta bukuku.
“Nih, buat kamu.” Faqih menyodorkan
sebuah minuman kaleng kepadaku.
“Aku mau bukuku, bukan minuman.
Lagian, aku bawa air, kok. Sini balikin, Qih!” sekali lagi aku meminta bukuku.
Kali ini aku berdiri hendak mengambilnya, namun bel masuk berbunyi dan wali
kelasku masuk kembali.
“Aku pinjam ya, Ti?” tanpa mendengar
persetujuanku, dia langsung memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Aku menggeram
dalam hati. “Awas kamu, Qih!”
Satu jam berlalu, dan akhirnya bel
pulang berbunyi. Bayangan rumah dan menu makan siang buatan Mama sudah
terbayang di benakku. Aku menuju parkiran dan mengambil sepeda. Tiba-tiba ada
seseorang yang mencegatku.
“Mau pulang? Aku temenin, yah?
Sekalian aku mau tahu rumahmu, Ti.” tak lain dan tak bukan orang itu adalah
Faqih.
“Hiih…!! Kamu kenapa sih gangguin
aku terus? Buat apa juga tahu rumahku?” jawabku kesal.
“Biar kamu pulangnya nggak
sendirian, dan aku bisa main ke sana, Ti. Terus kalau aku nggak bisa ngerjain
tugas kan bisa tanya kamu juga. Oke? Tunggu dulu, aku ambil sepeda.” ujarnya.
“Haaah…! Iya.” aku menyerah dan
menuruti keinginannya untuk menemaniku pulang.
“Yuk!” ajaknya.
Sepanjang perjalanan kami
berbincang. Dia banyak bertanya tentang diriku. Ternyata aku salah paham
terhadapnya, Faqih orangnya asyik dan humoris. Dan dia juga baik mau menemaniku
pulang, padahal kami baru berkenalan. Tak terasa akhirnya kami sampai di
rumahku. Mama menyambutku dengan wajah sumringahnya.
“Duh, anak Mama baru pulang. Sama
siapa, Sayang?” tanya Mama.
“Saya Faqihul Muqoddam, Tante. Teman
sekelas dan sebangku sama Tia. Panggil Faqih saja, Tan.” jawabnya tanpa
menungguku mempersilahkan untuk berkenalan.
Mama hanya tersenyum melihat tingkah
Faqih, dan aku mempersilahkannya masuk. Aku menyuguhinya es jeruk dan beberapa
camilan. Sepertinya dia sangat kehausan karena tak perlu waktu lama, es jeruk
di dalam gelasnya telah habis.
“Nak Faqih sudah makan? Makan di
sini sekalian, ya? Mumpung Tante baru selesai masak, nih.” Mama menawari Faqih
untuk makan bersama kami.
“Boleh, Tan? Kebetulan saya lapar
banget. He he.” kepolosannya membuatku tertawa geli.
Aku berganti pakaian dan menuju
dapur untuk mengambil piring dan gelas. Kemudian Mama berbisik kepadaku, “Itu
pacarmu? Ayo ngaku.”
“Nggak, Ma. Temen, kok. Nanti kalau
Tia punya pacar pasti Mama bakalan tahu. Jadi nggak usah godain Tia deh, Ma.”
gerutuku.
“Beneran? He he. Janji ya akan
dikenalin sama Mama ya? Kalau pacarmu nggak ganteng Mama nggak setuju.” Mama berkata
sambil tertawa. Aku hanya bisa mendesah mendengar perkataan Mama.
Makan siang kali ini berbeda dari
biasanya, karena ada Faqih yang menemani kami. Setiap siang kami selalu makan
berdua saja, Papa akan pulag saat adzan Maghrib berkumandang. Kami akan makan
bersama saat sarapan dan makan malam saja. Papa sibuk! Tapi aku senang, karena
beliau melakukannya demi menghidupi Mama dan aku.
“Tante, makasih makanannya. Mantab,
Tan!” ujar Faqih sambil mengacungkan jempol. Kami tertawa melihat tingkahnya.
“Aku pulang, Tante, Tia.
Assalamualaikum.” pamitnya.
Keesokan harinya …
“Tiaaaa…” sapanya dengan senyum
lebar.
“Dalem?” jawabku tanpa mengalihkan
pandangan dari buku How to Speak English Well milikku.
“Ti..?” panggilnya lagi.
“Apa, Qih?” sahutku dengan sedikit
meninggikan suara.
“Aku mau curhat. Soal cewek.” Faqih
sedikit berbisik.
Kata “cewek” membuatku sedikit
bersemangat untuk mendengarkan ceritanya. “Siapa, Qih? Anak kelas? Apa anak
kelas tetangga? Atau adik kelas? Atau…”
“Diem dulu, Ti. Cerewet ini, nih!
Udah bel, tuh! Nanti aja jam istirahat. Cerewet!” potongnya.
“Jiah!” aku hanya ternganga
melihatnya tiba-tiba emosi. Faqih aneh!
Teeettt… Teettt
“Ayo, Ti ikut aku ke suatu tempat.”
ajaknya.
Aku menurut saja, meskipun ada
sedikit kejanggalan. Kenapa dia harus mengajakku ke suatu tempat? Ah, aku mulai
memikirkan hal yang tidak-tidak. Dasar golongan darah A! Ternyata dia
mengajakku ke tempat duduk yang terbuat dari kayu di sebelah perpustakaan.
“Ti..?” dia menatapku lekat.
“Hah?” pikiranku semakin tak karuan.
Siapakah yang dimaksud Faqih? Tunggu kisah selanjutnya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar