Kamis, 08 Januari 2015

Tak Kan Terganti Part I


            Angin semilir membelai wajahku lembut. Aku terduduk di sebuah kuburan dengan batu nisan bertuliskan nama seseorang yang sangat ku rindukan. Faqihul Muqoddam, sosok  yang tak akan pernah tergantikan. Sudah sembilan bulan tubuhnya tertidur sendiri di bawah gundukan tanah ini. Penyakit kanker darah yang diidapnya tak dapat membuatnya hidup lama. Tiba-tiba ingatan tentang awal perkenalan kami muncul di benakku.

            Hari itu awal semester baru, aku telah menginjak tingkatan terakhir jenjang SMP. Kala itu aku masuk di kelas IX-H dan wali kelasku menempatkanku bersama seorang lelaki yang asing menurutku. Dengan tampang cuek, aku duduk di sebelahnya. Selama wali kelas menjelaskan tata tertib kelas, lelaki di sebelahku ini menatapku. Karena risih, aku melabraknya.

       “Apa sih, liat-liat?” tegurku padanya.

            “Hehe. Kenalan, dong? Masa sebangku nggak saling kenal?” jawabnya cengengesan.

           Aku tak menjawab pertanyaannya dan kembali fokus mendengarkan apa yang diucapkan wali kelas. Kemudian, bel istirahat berbunyi. Hampir seisi kelas berlari berhamburan menuju kantin yang jaraknya tidak jauh dari kelasku. Memang dari dulu aku tidak terlalu suka menghabiskan uangku untuk sekedar membeli snack di kantin. Aku selalu menghemat uang jajanku agar bisa ku tabung. Sambil mengisi waktu kosong selama istirahat, aku membaca novel yang baru ku beli. Judulnya “Kamu yang Terbaik”. Saat khusuk membaca, tiba-tiba ada yang menarik bukuku.

            “Eh..!” pekikku.

            “Khusuknyaaa…” ternyata orang itu lelaki yang jadi teman sebangkuku.

            “Balikin, nggak?! Kamu tuh dari tadi iseng banget, ya?!” aku kesal terhadap tingkahnya.
       
        “Kenalan dulu, baru aku balikin. Oke? Aku Faqihul Muqoddam. Panggil aja Faqih. Kamu siapa?” lelaki yang namanya Faqih itu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.

            “Aku Tia Aprilianti Putri. Panggil aja Tia. Sini balikin bukuku!” aku meminta bukuku.

            “Nih, buat kamu.” Faqih menyodorkan sebuah minuman kaleng kepadaku.

            “Aku mau bukuku, bukan minuman. Lagian, aku bawa air, kok. Sini balikin, Qih!” sekali lagi aku meminta bukuku. Kali ini aku berdiri hendak mengambilnya, namun bel masuk berbunyi dan wali kelasku masuk kembali.

            “Aku pinjam ya, Ti?” tanpa mendengar persetujuanku, dia langsung memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Aku menggeram dalam hati. “Awas kamu, Qih!”

            Satu jam berlalu, dan akhirnya bel pulang berbunyi. Bayangan rumah dan menu makan siang buatan Mama sudah terbayang di benakku. Aku menuju parkiran dan mengambil sepeda. Tiba-tiba ada seseorang yang mencegatku.

            “Mau pulang? Aku temenin, yah? Sekalian aku mau tahu rumahmu, Ti.” tak lain dan tak bukan orang itu adalah Faqih.

            “Hiih…!! Kamu kenapa sih gangguin aku terus? Buat apa juga tahu rumahku?” jawabku kesal.

            “Biar kamu pulangnya nggak sendirian, dan aku bisa main ke sana, Ti. Terus kalau aku nggak bisa ngerjain tugas kan bisa tanya kamu juga. Oke? Tunggu dulu, aku ambil sepeda.” ujarnya.

            “Haaah…! Iya.” aku menyerah dan menuruti keinginannya untuk menemaniku pulang.

            “Yuk!” ajaknya.

            Sepanjang perjalanan kami berbincang. Dia banyak bertanya tentang diriku. Ternyata aku salah paham terhadapnya, Faqih orangnya asyik dan humoris. Dan dia juga baik mau menemaniku pulang, padahal kami baru berkenalan. Tak terasa akhirnya kami sampai di rumahku. Mama menyambutku dengan wajah sumringahnya.

            “Duh, anak Mama baru pulang. Sama siapa, Sayang?” tanya Mama.

            “Saya Faqihul Muqoddam, Tante. Teman sekelas dan sebangku sama Tia. Panggil Faqih saja, Tan.” jawabnya tanpa menungguku mempersilahkan untuk berkenalan.

            Mama hanya tersenyum melihat tingkah Faqih, dan aku mempersilahkannya masuk. Aku menyuguhinya es jeruk dan beberapa camilan. Sepertinya dia sangat kehausan karena tak perlu waktu lama, es jeruk di dalam gelasnya telah habis.

            “Nak Faqih sudah makan? Makan di sini sekalian, ya? Mumpung Tante baru selesai masak, nih.” Mama menawari Faqih untuk makan bersama kami.

            “Boleh, Tan? Kebetulan saya lapar banget. He he.” kepolosannya membuatku tertawa geli.

            Aku berganti pakaian dan menuju dapur untuk mengambil piring dan gelas. Kemudian Mama berbisik kepadaku, “Itu pacarmu? Ayo ngaku.”

            “Nggak, Ma. Temen, kok. Nanti kalau Tia punya pacar pasti Mama bakalan tahu. Jadi nggak usah godain Tia deh, Ma.” gerutuku.

            “Beneran? He he. Janji ya akan dikenalin sama Mama ya? Kalau pacarmu nggak ganteng Mama nggak setuju.” Mama berkata sambil tertawa. Aku hanya bisa mendesah mendengar perkataan Mama.

            Makan siang kali ini berbeda dari biasanya, karena ada Faqih yang menemani kami. Setiap siang kami selalu makan berdua saja, Papa akan pulag saat adzan Maghrib berkumandang. Kami akan makan bersama saat sarapan dan makan malam saja. Papa sibuk! Tapi aku senang, karena beliau melakukannya demi menghidupi Mama dan aku.

            “Tante, makasih makanannya. Mantab, Tan!” ujar Faqih sambil mengacungkan jempol. Kami tertawa melihat tingkahnya.

            “Aku pulang, Tante, Tia. Assalamualaikum.” pamitnya.



            Keesokan harinya …

            “Tiaaaa…” sapanya dengan senyum lebar.

       “Dalem?” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari buku How to Speak English Well milikku.

            “Ti..?” panggilnya lagi.

            “Apa, Qih?” sahutku dengan sedikit meninggikan suara.

            “Aku mau curhat. Soal cewek.” Faqih sedikit berbisik.

            Kata “cewek” membuatku sedikit bersemangat untuk mendengarkan ceritanya. “Siapa, Qih? Anak kelas? Apa anak kelas tetangga? Atau adik kelas? Atau…”

            “Diem dulu, Ti. Cerewet ini, nih! Udah bel, tuh! Nanti aja jam istirahat. Cerewet!” potongnya.

            “Jiah!” aku hanya ternganga melihatnya tiba-tiba emosi. Faqih aneh!



            Teeettt… Teettt

            “Ayo, Ti ikut aku ke suatu tempat.” ajaknya.

            Aku menurut saja, meskipun ada sedikit kejanggalan. Kenapa dia harus mengajakku ke suatu tempat? Ah, aku mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Dasar golongan darah A! Ternyata dia mengajakku ke tempat duduk yang terbuat dari kayu di sebelah perpustakaan.

            “Ti..?” dia menatapku lekat.

            “Hah?” pikiranku semakin tak karuan.

            “Aku suka sama …” Faqih tidak melanjutkan kata-katanya.

            Siapakah yang dimaksud Faqih? Tunggu kisah selanjutnya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar