Besoknya,
Faqih tidak masuk sekolah. Menurut teman sekelasnya, tadi sewaktu olahraga
Faqih hampir pingsan di lapangan dan teman-temannya menggotongnya ke rumahnya
yang memang dekat.
Sepanjang hari aku memikirkan Faqih.
Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Karena akhir-akhir ini dia sering
mengeluh pusing. Ardi yang mengerti raut wajahku mencoba menghiburku. Dia
mengajakku untuk menjenguk Faqih sepulang sekolah.
Sepulang sekolah, kami langsung
menuju rumah Faqih. Umik membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk ke
kamar Faqih.
“Faqih itu bandel, Nak Tia. Umik
sudah bilang jangan sering-sering begadang, tapi nggak didengerin. Jadinya gitu
sekarang.” Umik mengomel. Kami bertiga hanya tertawa. Kemudian Umik
meninggalkan kami bertiga setelah menyuguhkan es teh dan beberapa camilan.
“He he, kenapa gitu wajahmu, Ti?”
Faqih menggodaku.
“Dia kepikiran kamu seharian, Qih.
Sampai hampir nggak konsen ngerjain ulangan Biologi. Dan korbannya, aku
dicuekin seharian. Sakitnya tuh di sini.” Ardi mulai mendramatisir.
“Nggak usah alay deh, Ar! Siapa
juga yang nyuekin kamu? Jangan percaya, Qih. Dia kumat. Ngomong-ngomong, kamu
pusing beneran gara-gara sering begadang? Emang udah periksa?”
“Alah, nggak usah. Cuma pusing aja.
Ini udah mendingan kok pusingnya. Kayaknya aku kualat gara-gara nggak dengerin
Umik. Ha ha.”
“Syukur lah, Bro kalau kamu nggak
papa.” Ardi menyahut. “Pulang yuk, Ti. Faqih kan mau istirahat.”
“Kamu besok masuk kan, Qih?” tanyaku
tanpa menjawab ajakan Ardi.
“InsyaAllah. Tapi kalau masih pusing
ya nggak masuk.” jawabnya.
“Kalau kamu nggak masuk, aku ke sini
lagi ya. Yaudah, aku pulang, cepet sembuh, Hul. Jangan bikin aku tambah khawatir.” ucapku.
Setelah keluar dari rumah Faqih, Ardi menjadi diam. Raut wajahnya pun berubah. Aku bingung ada apa dengannya.
“Sayang, kamu kenapa?”
“Aku mau tanya sama kamu. Jawab yang
jujur. Kamu sayang sama aku?”
“Kok masih tanya? Ya jelas sayang
lha, Ar. Ada apa, hm?”
“Kamu.. Kamu sayang sama Faqih?”
Aku kaget mendengar pertanyaan Ardi, “Iya. Tapi nggak lebih dari sahabat.
Pacarku ya tetep kamu, Sayang.”
“Maaf. Aku cemburu sama Faqih. Aku cemburu karena tadi kamu perhatian banget sama dia. Dan kamu nyuekin aku tadi. Maaf aku cemburu.”
“Sayang, maaf ya udah bikin kamu
sedih. Maaf banget. Aku nggak ada niatan gitu. Maaf tadi sempat nyuekin kamu.
Dan maaf mungkin aku terlalu dekat sama Faqih sampai kamu cemburu. Maaf.”
Kemudan Ardi menghentikan motornya
di bawah pohon yang rindang. Dia turun dan menatapku lekat. Aku menangis
menatap mata sayunya. Aku tertunduk, tak kuasa lagi menatapnya karena telah
membuatnya sedih.
“Aku minta maaf juga udah salah
paham sama kamu dan Faqih. Aku cuma.. Cuma nggak mau kehilangan kamu. Maaf.”
“Iya, aku ngerti. Aku juga minta
maaf ya, Sayang. Janji deh kejadian kayak gini nggak bakal keulang lagi.
Pulang, yuk! Nanti Mama ngira kamu nyulik aku.” candaku.
Hari berganti minggu, minggu
berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Kini aku telah menginjak kelas XII.
Yang mana tinggal menghitung hari saja aku akan meninggalkan sekolah ini dan
melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.
Semenjak kejadian waktu itu. Ardi semakin akrab
dengan Faqih. Terkadang Ardi lebih khusuk bermain dengan Faqih daripada denganku.
Aku senang melihat dua orang yang ku sayang akur. Aku bersyukur bisa memiliki
sahabat sebaik Faqih dan kekasih sehebat Ardi yang pengertian.
Di suatu siang, Faqih menyuruhku untuk datang ke
kelasnya karena ada yang ingin dia tanyakan.
“Apa, Hul?”
“Ardi mana?”
“Dia dispen, ikut lomba futsal.”
“Kok nggak ikut dispen kamu, Ti? Katanya setia sama
Ardi?”
“Ya terus ngapain aku dispen? Setia nggak harus selalu
ngekor kemanapun dia pergi, kali! Oh ya, kamu mau tanya apa?”
“Sendiku kok ngilu ya, Ti?”
“Sejak kapan? Sudah periksa?”
“Dari minggu lalu sih. Belum. Nanti habis UTS aku ke
dokter tulang. Kayaknya aku flu tulang deh, Ti.”
“Mungkin. Ya udah, beneran periksa lho ya ke dokter?
Aku masuk dulu, mau nyiapin LJK.”
Setelah serangkaian UTS usai, Faqih memeriksakan
keluhannya itu ke dokter tulang. Apa yang diduga olehnya memang benar, dia
terkena flu tulang. Aku menganggap itu hal yang tidak terlalu serius karena
kegiatan Faqih akhir-akhir ini memang padat menjelang tahun baru.
Minggu-minggu berlalu, akhirnya kita tiba di
penghujung tahun 2013. Aku dan Ardi datang untuk menyaksikan penampilan Faqih
di alun-alun kota sebagai peniup terompet. Penampilannya dan grupnya mendapat
tepuk tangan yang meriah dari para penonton.
Setelah penampilan Faqih, Ardi mengajakku untuk
menemuinya sekalian berpamitan karena malam semakin larut.
“Good job, Bro!” puji Ardi.
“Ah, bisa aja kamu, Bro! Good job juga atas kemenangan
futsalnya.” Faqih memuji Ardi juga.
“Ehem, aku dicuekin.” aku memotong puji-memuji dua
lelaki di depanku ini.
“Ciee cemburu.” Faqih dan Ardi menggodaku bersamaan.
“Kompak ya sekarang. Dasar cowok! Btw, keren, Qih!” ucapku sambil
mengacungkan jempol.
“Syukron. Aku emang…”
“Terompetnya. Ha ha ha.” ledekku. Kami bertiga tertawa
terbahak-bahak malam itu. Aku berharap agar kebersamaan ini bisa berlanjut
untuk esok hari.
Akankah harapan Tia bisa terwujud?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar