Kamis, 08 Januari 2015

Tak Kan Terganti Part III

           Besoknya, Faqih tidak masuk sekolah. Menurut teman sekelasnya, tadi sewaktu olahraga Faqih hampir pingsan di lapangan dan teman-temannya menggotongnya ke rumahnya yang memang dekat.

            Sepanjang hari aku memikirkan Faqih. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Karena akhir-akhir ini dia sering mengeluh pusing. Ardi yang mengerti raut wajahku mencoba menghiburku. Dia mengajakku untuk menjenguk Faqih sepulang sekolah.

       Sepulang sekolah, kami langsung menuju rumah Faqih. Umik membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk ke kamar Faqih.

          “Faqih itu bandel, Nak Tia. Umik sudah bilang jangan sering-sering begadang, tapi nggak didengerin. Jadinya gitu sekarang.” Umik mengomel. Kami bertiga hanya tertawa. Kemudian Umik meninggalkan kami bertiga setelah menyuguhkan es teh dan beberapa camilan.

            “He he, kenapa gitu wajahmu, Ti?” Faqih menggodaku.

            “Dia kepikiran kamu seharian, Qih. Sampai hampir nggak konsen ngerjain ulangan Biologi. Dan korbannya, aku dicuekin seharian. Sakitnya tuh di sini.” Ardi mulai mendramatisir.

            “Nggak usah alay deh, Ar! Siapa juga yang nyuekin kamu? Jangan percaya, Qih. Dia kumat. Ngomong-ngomong, kamu pusing beneran gara-gara sering begadang? Emang udah periksa?”

           “Alah, nggak usah. Cuma pusing aja. Ini udah mendingan kok pusingnya. Kayaknya aku kualat gara-gara nggak dengerin Umik. Ha ha.”

            “Syukur lah, Bro kalau kamu nggak papa.” Ardi menyahut. “Pulang yuk, Ti. Faqih kan mau istirahat.”

            “Kamu besok masuk kan, Qih?” tanyaku tanpa menjawab ajakan Ardi.

            “InsyaAllah. Tapi kalau masih pusing ya nggak masuk.” jawabnya.

        “Kalau kamu nggak masuk, aku ke sini lagi ya. Yaudah, aku pulang, cepet sembuh, Hul. Jangan bikin aku tambah khawatir.” ucapku.
            
            
         Setelah keluar dari rumah Faqih, Ardi menjadi diam. Raut wajahnya pun berubah. Aku bingung ada apa dengannya.

            “Sayang, kamu kenapa?”

            “Aku mau tanya sama kamu. Jawab yang jujur. Kamu sayang sama aku?”

            “Kok masih tanya? Ya jelas sayang lha, Ar. Ada apa, hm?”

            “Kamu.. Kamu sayang sama Faqih?”

            Aku kaget mendengar pertanyaan Ardi, “Iya. Tapi nggak lebih dari sahabat. Pacarku ya tetep kamu, Sayang.”

            “Maaf. Aku cemburu sama Faqih. Aku cemburu karena tadi kamu perhatian banget sama dia. Dan kamu nyuekin aku tadi. Maaf aku cemburu.”

            “Sayang, maaf ya udah bikin kamu sedih. Maaf banget. Aku nggak ada niatan gitu. Maaf tadi sempat nyuekin kamu. Dan maaf mungkin aku terlalu dekat sama Faqih sampai kamu cemburu. Maaf.”

        Kemudan Ardi menghentikan motornya di bawah pohon yang rindang. Dia turun dan menatapku lekat. Aku menangis menatap mata sayunya. Aku tertunduk, tak kuasa lagi menatapnya karena telah membuatnya sedih.

            “Aku minta maaf juga udah salah paham sama kamu dan Faqih. Aku cuma.. Cuma nggak mau kehilangan kamu. Maaf.”

            “Iya, aku ngerti. Aku juga minta maaf ya, Sayang. Janji deh kejadian kayak gini nggak bakal keulang lagi. Pulang, yuk! Nanti Mama ngira kamu nyulik aku.” candaku.

        
        Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Kini aku telah menginjak kelas XII. Yang mana tinggal menghitung hari saja aku akan meninggalkan sekolah ini dan melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.

Semenjak kejadian waktu itu. Ardi semakin akrab dengan Faqih. Terkadang Ardi lebih khusuk bermain dengan Faqih daripada denganku. Aku senang melihat dua orang yang ku sayang akur. Aku bersyukur bisa memiliki sahabat sebaik Faqih dan kekasih sehebat Ardi yang pengertian.


Di suatu siang, Faqih menyuruhku untuk datang ke kelasnya karena ada yang ingin dia tanyakan.

“Apa, Hul?”

“Ardi mana?”

“Dia dispen, ikut lomba futsal.”

“Kok nggak ikut dispen kamu, Ti? Katanya setia sama Ardi?”

“Ya terus ngapain aku dispen? Setia nggak harus selalu ngekor kemanapun dia pergi, kali! Oh ya, kamu mau tanya apa?”

“Sendiku kok ngilu ya, Ti?”

“Sejak kapan? Sudah periksa?”

“Dari minggu lalu sih. Belum. Nanti habis UTS aku ke dokter tulang. Kayaknya aku flu tulang deh, Ti.”

“Mungkin. Ya udah, beneran periksa lho ya ke dokter? Aku masuk dulu, mau nyiapin LJK.”


Setelah serangkaian UTS usai, Faqih memeriksakan keluhannya itu ke dokter tulang. Apa yang diduga olehnya memang benar, dia terkena flu tulang. Aku menganggap itu hal yang tidak terlalu serius karena kegiatan Faqih akhir-akhir ini memang padat menjelang tahun baru.

Minggu-minggu berlalu, akhirnya kita tiba di penghujung tahun 2013. Aku dan Ardi datang untuk menyaksikan penampilan Faqih di alun-alun kota sebagai peniup terompet. Penampilannya dan grupnya mendapat tepuk tangan yang meriah dari para penonton.

Setelah penampilan Faqih, Ardi mengajakku untuk menemuinya sekalian berpamitan karena malam semakin larut.

“Good job, Bro!” puji Ardi.

“Ah, bisa aja kamu, Bro! Good job juga atas kemenangan futsalnya.” Faqih memuji Ardi juga.

“Ehem, aku dicuekin.” aku memotong puji-memuji dua lelaki di depanku ini.

“Ciee cemburu.” Faqih dan Ardi menggodaku bersamaan.

“Kompak ya sekarang. Dasar cowok! Btw, keren, Qih!” ucapku sambil mengacungkan jempol.

“Syukron. Aku emang…”

“Terompetnya. Ha ha ha.” ledekku. Kami bertiga tertawa terbahak-bahak malam itu. Aku berharap agar kebersamaan ini bisa berlanjut untuk esok hari.


Akankah harapan Tia bisa terwujud?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar