Namun,
kenyataan tak seindah harapanku. Seminggu setelah penampilannya, Faqih masuk
rumah sakit karena terserang DBD. Dia tak member tahuku, aku tahu dari teman
sekelasnya yang mengajakku untuk menjenguknya. Aku menjenguknya bersama
teman-teman sekelasnya. Ardi tak dapat ikut karena harus menjaga toko di
rumahnya.
“Assalamualaikum.” sapaku.
“Waalaikumsalam, Nak Tia. Sini
duduk, Nak. Umik lama nggak ketemu kamu.”
“Sibuk pacaran itu, Mik!” Faqih
menyahut.
“Yang lagi sakit nggak usah
ikut-ikut.”
“Nak Ardi kemana? Tumben nggak
bareng?”
“Jaga toko, Mik. Ibu sama Bapak
keluar katanya.”
Begitulah percakapan yang terjadi
selama di rumah sakit. Faqih terlihat semakin kurus dan matanya cekung. Aku
semakin khawatir mengapa setiap tahun kondisinya semakin memburuk. Setelah satu
jam lamanya, aku berpamitan untuk pulang karena hari sudah sore.
Sesampainya di rumah, Mama
menanyakan kondisi Faqih. Aku mengutarakan kekhawatiranku pada Mama. Beliau membelai
kerudungku seraya menenangkanku.
“Doakan saja semoga Faqih cepat
sembuh, Sayang.”
“Iya, Ma.”
Seminggu kemudian, kondisi Faqih
semakin memburuk. Sehingga dia harus dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. Berita
yang semakin membuatku kaget adalah Faqih terkena Hepatitis B, bukan DBD. Tak
sampai situ berita buruk yang ku dapatkan, diagnosa terbaru menyatakan bahwa
Faqih terkena Leukimia stadium III.
Akhirnya aku sadar akan tanda-tanda
yang dialaminya semenjak kelas X. Pusing, mudah lelah, hingga mengeluh
persendiannya ngilu. Seandainya dari dulu dia mau memeriksakan kondisinya, mungkin penyakitnya bisa segera terdeketsi dan bisa disembuhkan dengan cepat.
Sore itu aku memutuskan untuk
menjenguk Faqih di rumah sakit Surabaya. Kebetulan Papa sedang libur, jadi aku
pergi bersama Papa, Mama, dan Ardi. Sepanjang perjalanan aku tak bisa tenang. Ardi hanya bisa menghela nafas melihatku gelisah seperti itu. Dia coba
menghiburku, namun hal itu tidak terlalu berhasil. Aku tetap saja gelisah.
Perjalanan dari rumah kami menuju
rumah sakit sekitar 2 jam karena kala itu macet sepanjang jalan menuju rumah sakit. Sesampainya di RS, Mama memegang pundakku dan berbisik.
“Nanti kamu jangan nangis, ya. Kamu
harus kasih dia semangat biar cepet sembuh. Pokoknya Tia nggak boleh nunjukin
kalau khawatir sama Faqih. Karena Faqih bakal sedih kalau tau kamu gelisah.”
aku hanya mengangguk mengiyakan kata-kata Mama.
“Sayang yang kuat, ya.” Ardi ikut
berbisik di telingaku. Aku hanya tersenyum.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Qih, ini ada Tia
sama keluarganya, Nak.” sambut Abah.
Hatiku mencelos melihat Faqih yang
sekarang. Tubuhnya disambungkan oleh banyak selang. Yang aku kenali hanya
selang infus saja. Wajahnya pucat sekali, dan badannya sangat kurus, cekungan
di matanya semakin tampak. Dan dia hanya terbaring lesu melihat kedatanganku.
Air mataku hampir tak dapat terbendung lagi.
“Sehat, Bro? Tia gimana di sekolah?
Pasti cerewet ya, Bro?” tanya Faqih pada Irvan.
“Sehat, alhamdulillah. Dia cerewet
itu normal, Bro. Kalau dia diam itu yang nyeremin.” Ardi nyengir.
“Duh, dua fansku ini kebiasaan ya
suka ngomongin aku.” aku berkacak pinggang.
“Ar, kamu nggak denger ada suara-suara aneh barusan? Aku merinding nih.”
“Faqih! Ku gigit ntar kamu, ya!”
”Aww, atuuut. Hahahaha."
“Nak Tia, Faqih belum makan dari
tadi. Mungkin kalau disuapin Nak Tia Faqih mau makan?” Aku melotot melihat
Faqih. Yang dimaksud hanya nyengir. Lalu Umik menyodorkan semangkok bubur.
“Ti, aku belum ngurus SNMPTN, gimana
dong?” tanyanya di sela-sela aku menyuapinya.
“Gampang, nanti aku sama Ardi yang
ngurusin. Ya kan?” tanyaku pada Ardi. Yang ditanya tersenyum mengiyakan ucapanku.
“Ti, aku besok mau pulang. Katanya
Senin ada Maulid Nabi ya di sekolah?”
“Iya. Makanya, makan yang banyak dan minum obat dari dokter biar besok beneran bisa pulang. Habisin buburnya. Senin nanti kita makan
tumpeng bareng-bareng. Oke?”
"Oke!"
Selepas shalat asar, kami pamit
pulang. Dan kebetulan Faqih sudah mengantuk karena efek obat. Ada sedikit
kelegaan di hati melihatnya bisa tertawa seperti semula meskipun dengan kondisi
yang seperti sekarang. Karena saat teman-teman yang lain menjenguknya, mereka
mengatakan bahwa Faqih hanya diam saja, tak dapat tertawa. Mungkin hanya
tersenyum sebentar. Aku percaya bahwa Faqih akan sembuh dan bisa bersekolah
seperti semula.
Next :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar