Kamis, 08 Januari 2015

Tak Kan Terganti Part IV

          Namun, kenyataan tak seindah harapanku. Seminggu setelah penampilannya, Faqih masuk rumah sakit karena terserang DBD. Dia tak member tahuku, aku tahu dari teman sekelasnya yang mengajakku untuk menjenguknya. Aku menjenguknya bersama teman-teman sekelasnya. Ardi tak dapat ikut karena harus menjaga toko di rumahnya.

            “Assalamualaikum.” sapaku.

            “Waalaikumsalam, Nak Tia. Sini duduk, Nak. Umik lama nggak ketemu kamu.”

            “Sibuk pacaran itu, Mik!” Faqih menyahut.

            “Yang lagi sakit nggak usah ikut-ikut.”

            “Nak Ardi kemana? Tumben nggak bareng?”

            “Jaga toko, Mik. Ibu sama Bapak keluar katanya.”

            Begitulah percakapan yang terjadi selama di rumah sakit. Faqih terlihat semakin kurus dan matanya cekung. Aku semakin khawatir mengapa setiap tahun kondisinya semakin memburuk. Setelah satu jam lamanya, aku berpamitan untuk pulang karena hari sudah sore.

           Sesampainya di rumah, Mama menanyakan kondisi Faqih. Aku mengutarakan kekhawatiranku pada Mama. Beliau membelai kerudungku seraya menenangkanku.

            “Doakan saja semoga Faqih cepat sembuh, Sayang.”

            “Iya, Ma.”


            Seminggu kemudian, kondisi Faqih semakin memburuk. Sehingga dia harus dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. Berita yang semakin membuatku kaget adalah Faqih terkena Hepatitis B, bukan DBD. Tak sampai situ berita buruk yang ku dapatkan, diagnosa terbaru menyatakan bahwa Faqih terkena Leukimia stadium III.

            Akhirnya aku sadar akan tanda-tanda yang dialaminya semenjak kelas X. Pusing, mudah lelah, hingga mengeluh persendiannya ngilu. Seandainya dari dulu dia mau memeriksakan kondisinya, mungkin penyakitnya bisa segera terdeketsi dan bisa disembuhkan dengan cepat.

            Sore itu aku memutuskan untuk menjenguk Faqih di rumah sakit Surabaya. Kebetulan Papa sedang libur, jadi aku pergi bersama Papa, Mama, dan Ardi. Sepanjang perjalanan aku tak bisa tenang. Ardi hanya bisa menghela nafas melihatku gelisah seperti itu. Dia coba menghiburku, namun hal itu tidak terlalu berhasil. Aku tetap saja gelisah.

            Perjalanan dari rumah kami menuju rumah sakit sekitar 2 jam karena kala itu macet sepanjang jalan menuju rumah sakit. Sesampainya di RS, Mama memegang pundakku dan berbisik.

            “Nanti kamu jangan nangis, ya. Kamu harus kasih dia semangat biar cepet sembuh. Pokoknya Tia nggak boleh nunjukin kalau khawatir sama Faqih. Karena Faqih bakal sedih kalau tau kamu gelisah.” aku hanya mengangguk mengiyakan kata-kata Mama.

            “Sayang yang kuat, ya.” Ardi ikut berbisik di telingaku. Aku hanya tersenyum.

            “Assalamualaikum.”

            “Waalaikumsalam. Qih, ini ada Tia sama keluarganya, Nak.” sambut Abah.

            Hatiku mencelos melihat Faqih yang sekarang. Tubuhnya disambungkan oleh banyak selang. Yang aku kenali hanya selang infus saja. Wajahnya pucat sekali, dan badannya sangat kurus, cekungan di matanya semakin tampak. Dan dia hanya terbaring lesu melihat kedatanganku. Air mataku hampir tak dapat terbendung lagi.

            “Sehat, Bro? Tia gimana di sekolah? Pasti cerewet ya, Bro?” tanya Faqih pada Irvan.

            “Sehat, alhamdulillah. Dia cerewet itu normal, Bro. Kalau dia diam itu yang nyeremin.” Ardi nyengir.

            “Duh, dua fansku ini kebiasaan ya suka ngomongin aku.” aku berkacak pinggang.

            “Ar, kamu nggak denger ada suara-suara aneh barusan? Aku merinding nih.”

            “Faqih! Ku gigit ntar kamu, ya!”

            ”Aww, atuuut. Hahahaha."

            “Nak Tia, Faqih belum makan dari tadi. Mungkin kalau disuapin Nak Tia Faqih mau makan?” Aku melotot melihat Faqih. Yang dimaksud hanya nyengir. Lalu Umik menyodorkan semangkok bubur.
            “Ti, aku belum ngurus SNMPTN, gimana dong?” tanyanya di sela-sela aku menyuapinya.

            “Gampang, nanti aku sama Ardi yang ngurusin. Ya kan?” tanyaku pada Ardi. Yang ditanya tersenyum mengiyakan ucapanku.

            “Ti, aku besok mau pulang. Katanya Senin ada Maulid Nabi ya di sekolah?”

         “Iya. Makanya, makan yang banyak dan minum obat dari dokter biar besok beneran bisa pulang. Habisin buburnya. Senin nanti kita makan tumpeng bareng-bareng. Oke?”

            "Oke!"


           Selepas shalat asar, kami pamit pulang. Dan kebetulan Faqih sudah mengantuk karena efek obat. Ada sedikit kelegaan di hati melihatnya bisa tertawa seperti semula meskipun dengan kondisi yang seperti sekarang. Karena saat teman-teman yang lain menjenguknya, mereka mengatakan bahwa Faqih hanya diam saja, tak dapat tertawa. Mungkin hanya tersenyum sebentar. Aku percaya bahwa Faqih akan sembuh dan bisa bersekolah seperti semula.

            Di perjalanan, Papa mengajak kami makan di sebuah restoran. Saat yang sangat langka, dimana Papa, Mama, dan aku bisa makan di luar bersama dan ditambah dengan kehadiran kekasihku. Menambah kebahagiaanku malam ini.

            Next :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar