Dan
dengan polosnya aku mengangguk dan berkata, “Udah, Mas.”
Seketika semua orang yang ada
menoleh kepadaku dan dengan kompaknya bertanya, “Beneran?”
“Sini, duduk. Cerita.. cerita..” Mas
Lukman menarik tanganku agar aku duduk di sebelahnya. Kemudian sesi tanya jawab
perihal putusnya aku dan Danu terjadi. Dan rapat yang awalnya membahas tentang
pembagian program kerja tiap sekbid berubah menjadi acara talk show yang
bintang tamunya aku. Lagi-lagi aku merasa beruntung memiliki teman-teman dan senior-senior
yang peduli padaku.
Keesokan malamnya kami berkumpul
lagi dan aku duduk di sebelah seniorku yang juga masih anggota baru. Di saat
sedang istirahat setelah membahas kelanjutan pembagian proker (program kerja),
Mas Adit yang duduk di sebalahku itu tiba-tiba membuka pembicaraan.
“Eh kamu kok diem aja, sih? Ngomong,
napa?”
“Hehe, iya Mas.” sebenarnya berat
sekali untuk sekedar tertawa lepas, namun aku memaksakan hanya demi
menghargainya.
“Kamu
mau liat KHS (Kartu Hasil Study) ku, nggak?” pamernya.
“Boleh..
boleh.” jawabku. Kemudian dia mengeluarkan KHSnya. Aku tertawa setelah melihat
ada nilai E di dalamnya. Dia bersikukuh kalau dosennya yang terlalu kejam
kepadanya, hingga dia diberi nilai serendah itu. Keadaan canggung di antara
kami sedikit mencair, lalu kami mulai membicarakan proker yang akan kami
laksanakan. Kebetulan aku dan dia berada di sekbid yang sama yaitu LitBang
(Penelitian dan Pengembangan).
Hari
demi hari berganti, kegiatan perkuliahan ku lewati tanpa gairah. Perasaanku
masih tetap kepada Danu, dan aku juga masih terus menghubunginya. Terkadang
kekasihnya menyindirku dengan kata-kata yang tak seharusnya ia lontarkan
kepadaku. Namun aku maklumi, karena posisiku saat ini memang salah.
Hingga
suatu hari, saat aku harus pulang ke rumah karena ada acara dan di saat itu
pula ada rapat FANATIK. Entah mengapa aku menghubungi Mas Adit. Aku berniat
menitipkan fotoku untuk pembuatan kartu pers. Biasanya ia sering bersantai di
warung depan kampus. Namun saat itu ia tak berada di sana. Dan anehnya lagi,
kami yang awalnya canggung satu sama lain karena memang tidak terlalu akrab,
malam ini malah saling chattingan di BBM hingga larut malam.
Perbincangan
kami berlanjut hingga keesokan harinya. Kami mulai akrab satu sama lain, dan
Elin mengetahuinya. Dia mulai menginterogasiku kala itu.
“Siapa,
Za? Kok kayaknya seneng banget?”
“Senior
FANATIK, Lin.” jawabku.
“Ooh.
Senior? Yakin cuma senior? Atau senior idaman? Atau senior gebetan? Atau...
atau…” Elin mengatakannya dengan nada menggoda. Dan dia melakukannya semalaman.
Dasar makhluk usil!
Kebiasaanku
untuk menghubungi Danu juga sudah mulai berkurang. Ditambah dengan kejadian
saat aku mengirim sebuah lagu yang ku nyanyikan untuknya, dan ketika itu HPnya
dipegang oleh kekasihnya. Hal itu juga yang membuatku malas menghubunginya.
Mama, Elin, dan sahabat-sahabatku
yang mengetahui itu sangat gembira. Dan sepertinya semangatku sedikit kembali.
Mas Adit membawa efek yang baik, kata mereka. Sejujurnya, aku mulai merasa
nyaman saat bersamanya. Namun aku masih ragu, apakah ini rasa sayang atau
sekedar rasa nyaman yang sementara.
Suatu
hari Mas Adit mengajakku ke tempat tongkrongannya di WDK (warung depan kampus).
Ada rasa senang di hatiku kala ia mengajakku dan kami di sana hanya berdua
saja. Di sana kami mengobrol banyak hal. Dari seputar organisasi, perkuliahan,
hingga kehidupan kami. Aku merasa semakin nyaman bersamanya. Malam semakin
larut, ia mengajakku untuk membeli makan. Namun aku menolak untuk makan
bersamanya karena perutku masih kenyang. Tak sengaja, di tengah jalan aku
melihat Danu dan kekasihnya sedang berduaan. Ajaib! Karena aku tak lagi
merasakan cemburu. Apakah aku benar-benar telah melupakannya? Apakah aku telah
jatuh cinta pada Mas Adit?
Setelah selesai membeli makan malam,
aku berpamitan pada Mas Adit. Dan dia berniat untuk mengantarku pulang. Aku
merasa senang sekali malam ini. Senang bisa bersama Mas Adit. Kencan? I don’t know too.
“Makasih Mas udah nganterin aku.
Maaf ngerepotin.” ucapku.
“Yee.. Aku kali yang harusnya bilang
makasih dan minta maaf. Makasih banyak udah mau nemenin aku, dan maaf udah minta
kamu nemenin aku malem-malem gini. Di warung pula. Nggak elit banget. He he.”
dia berkata sambari nyengir kuda.
“Nggak papa kok, Mas. Aku seneng nemenin
kamu.” aku tersenyum malu kala mengatakannya.
“Ih, baik banget sih Neng Zahra. Ya
udah deh, aku balik dulu ya.” dia mengusap kepalaku lembut kemudian pergi
dengan motornya. Jantungku berdegup kencang, aura senang dari wajahku tak dapat
ku sembunyikan lagi.
“Ehem…” tiba-tiba ada suara yang
sangat ku kenal.
“Ehh, emm.. Elin. Hai! Emm.. Dari
tadi?” sapaku gelagapan.
“Dari kemarin malah, Za! Oh ya, aku
nggak lihat apa-apa kok barusan.” ledeknya.
“Maksudnya?” aku bertanya dengan
polos.
“Maksudnya, aku nggak lihat kok kalo
kepalamu habis dielus sama seniormu itu. Sungguh, aku nggak lihat. Ha ha ha.”
“Eliiiiiiiiiinnnnn!!”
Hari-hari berlanjut. Hubunganku dan
Mas Adit semakin intim. Aku menceritakan tentangnya kepada Mama. Sama halnya
seperti Elin, Mama sangat senang melihatku kembali ceria seperti dulu. Hingga
pada suatu hari, sesuatu yang sangat tak ku duga terjadi.
Chat
BBM . . .
. . .
“Iya aku paham. Bercanda doang
tadi, Zahra. Ih kamu lucu kalo baper yah? Ha ha ha. Iya aku juga mau kok jadi
pacar, sahabat, dan siapa pun, yang penting aku bisa deket sama kamu. Tapi
kayaknya nggak gentle deh kalo aku nyatain perasaanku lewat BBM. Besok deh kalo
kamu balik ke kos aku bakal ngomong langsung di depan kamu. Makanya, cepet
balik dong.”
15 Maret 2015, pukul 02.00, Adit mengutarakan
perasaannya padaku, setelah sukses membuatku bingung. Ternyata cintaku tak
bertepuk sebelah tangan. Aku khawatir dia hanya menganggapku sebagai adik saja.
Namun kekhawatiranku terpatahkan oleh ucapannya saat itu. Dan semenjak saat itu
juga dia melarangku untuk memanggilnya dengan embel-embel “Mas”.
Keesokan harinya saat aku kembali ke
kos, Adit mendatangiku dan ia benar-benar mengutarakan perasaannya di depanku.
Dia adalah orang pertama yang dengan gentle melakukan hal seperti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar