Minggu, 17 Mei 2015

This is Love II

Dan dengan polosnya aku mengangguk dan berkata, “Udah, Mas.”
            Seketika semua orang yang ada menoleh kepadaku dan dengan kompaknya bertanya, “Beneran?”
            “Sini, duduk. Cerita.. cerita..” Mas Lukman menarik tanganku agar aku duduk di sebelahnya. Kemudian sesi tanya jawab perihal putusnya aku dan Danu terjadi. Dan rapat yang awalnya membahas tentang pembagian program kerja tiap sekbid berubah menjadi acara talk show yang bintang tamunya aku. Lagi-lagi aku merasa beruntung memiliki teman-teman dan senior-senior yang peduli padaku.
            Keesokan malamnya kami berkumpul lagi dan aku duduk di sebelah seniorku yang juga masih anggota baru. Di saat sedang istirahat setelah membahas kelanjutan pembagian proker (program kerja), Mas Adit yang duduk di sebalahku itu tiba-tiba membuka pembicaraan.
            “Eh kamu kok diem aja, sih? Ngomong, napa?”
            “Hehe, iya Mas.” sebenarnya berat sekali untuk sekedar tertawa lepas, namun aku memaksakan hanya demi menghargainya.
“Kamu mau liat KHS (Kartu Hasil Study) ku, nggak?” pamernya.
“Boleh.. boleh.” jawabku. Kemudian dia mengeluarkan KHSnya. Aku tertawa setelah melihat ada nilai E di dalamnya. Dia bersikukuh kalau dosennya yang terlalu kejam kepadanya, hingga dia diberi nilai serendah itu. Keadaan canggung di antara kami sedikit mencair, lalu kami mulai membicarakan proker yang akan kami laksanakan. Kebetulan aku dan dia berada di sekbid yang sama yaitu LitBang (Penelitian dan Pengembangan).
Hari demi hari berganti, kegiatan perkuliahan ku lewati tanpa gairah. Perasaanku masih tetap kepada Danu, dan aku juga masih terus menghubunginya. Terkadang kekasihnya menyindirku dengan kata-kata yang tak seharusnya ia lontarkan kepadaku. Namun aku maklumi, karena posisiku saat ini memang salah.
Hingga suatu hari, saat aku harus pulang ke rumah karena ada acara dan di saat itu pula ada rapat FANATIK. Entah mengapa aku menghubungi Mas Adit. Aku berniat menitipkan fotoku untuk pembuatan kartu pers. Biasanya ia sering bersantai di warung depan kampus. Namun saat itu ia tak berada di sana. Dan anehnya lagi, kami yang awalnya canggung satu sama lain karena memang tidak terlalu akrab, malam ini malah saling chattingan di BBM hingga larut malam.
Perbincangan kami berlanjut hingga keesokan harinya. Kami mulai akrab satu sama lain, dan Elin mengetahuinya. Dia mulai menginterogasiku kala itu.
“Siapa, Za? Kok kayaknya seneng banget?”
“Senior FANATIK, Lin.” jawabku.
“Ooh. Senior? Yakin cuma senior? Atau senior idaman? Atau senior gebetan? Atau... atau…” Elin mengatakannya dengan nada menggoda. Dan dia melakukannya semalaman. Dasar makhluk usil!
Kebiasaanku untuk menghubungi Danu juga sudah mulai berkurang. Ditambah dengan kejadian saat aku mengirim sebuah lagu yang ku nyanyikan untuknya, dan ketika itu HPnya dipegang oleh kekasihnya. Hal itu juga yang membuatku malas menghubunginya.
            Mama, Elin, dan sahabat-sahabatku yang mengetahui itu sangat gembira. Dan sepertinya semangatku sedikit kembali. Mas Adit membawa efek yang baik, kata mereka. Sejujurnya, aku mulai merasa nyaman saat bersamanya. Namun aku masih ragu, apakah ini rasa sayang atau sekedar rasa nyaman yang sementara.
Suatu hari Mas Adit mengajakku ke tempat tongkrongannya di WDK (warung depan kampus). Ada rasa senang di hatiku kala ia mengajakku dan kami di sana hanya berdua saja. Di sana kami mengobrol banyak hal. Dari seputar organisasi, perkuliahan, hingga kehidupan kami. Aku merasa semakin nyaman bersamanya. Malam semakin larut, ia mengajakku untuk membeli makan. Namun aku menolak untuk makan bersamanya karena perutku masih kenyang. Tak sengaja, di tengah jalan aku melihat Danu dan kekasihnya sedang berduaan. Ajaib! Karena aku tak lagi merasakan cemburu. Apakah aku benar-benar telah melupakannya? Apakah aku telah jatuh cinta pada Mas Adit?
            Setelah selesai membeli makan malam, aku berpamitan pada Mas Adit. Dan dia berniat untuk mengantarku pulang. Aku merasa senang sekali malam ini. Senang bisa bersama Mas Adit. Kencan? I don’t know too.
            “Makasih Mas udah nganterin aku. Maaf ngerepotin.” ucapku.
            “Yee.. Aku kali yang harusnya bilang makasih dan minta maaf. Makasih banyak udah mau nemenin aku, dan maaf udah minta kamu nemenin aku malem-malem gini. Di warung pula. Nggak elit banget. He he.” dia berkata sambari nyengir kuda.
            “Nggak papa kok, Mas. Aku seneng nemenin kamu.” aku tersenyum malu kala mengatakannya.
            “Ih, baik banget sih Neng Zahra. Ya udah deh, aku balik dulu ya.” dia mengusap kepalaku lembut kemudian pergi dengan motornya. Jantungku berdegup kencang, aura senang dari wajahku tak dapat ku sembunyikan lagi.
            “Ehem…” tiba-tiba ada suara yang sangat ku kenal.
            “Ehh, emm.. Elin. Hai! Emm.. Dari tadi?” sapaku gelagapan.
            “Dari kemarin malah, Za! Oh ya, aku nggak lihat apa-apa kok barusan.” ledeknya.
            “Maksudnya?” aku bertanya dengan polos.
            “Maksudnya, aku nggak lihat kok kalo kepalamu habis dielus sama seniormu itu. Sungguh, aku nggak lihat. Ha ha ha.”
            “Eliiiiiiiiiinnnnn!!”
            Hari-hari berlanjut. Hubunganku dan Mas Adit semakin intim. Aku menceritakan tentangnya kepada Mama. Sama halnya seperti Elin, Mama sangat senang melihatku kembali ceria seperti dulu. Hingga pada suatu hari, sesuatu yang sangat tak ku duga terjadi.
            Chat BBM . . .
            . . .
            “Iya aku paham. Bercanda doang tadi, Zahra. Ih kamu lucu kalo baper yah? Ha ha ha. Iya aku juga mau kok jadi pacar, sahabat, dan siapa pun, yang penting aku bisa deket sama kamu. Tapi kayaknya nggak gentle deh kalo aku nyatain perasaanku lewat BBM. Besok deh kalo kamu balik ke kos aku bakal ngomong langsung di depan kamu. Makanya, cepet balik dong.
            15 Maret 2015, pukul 02.00, Adit mengutarakan perasaannya padaku, setelah sukses membuatku bingung. Ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Aku khawatir dia hanya menganggapku sebagai adik saja. Namun kekhawatiranku terpatahkan oleh ucapannya saat itu. Dan semenjak saat itu juga dia melarangku untuk memanggilnya dengan embel-embel “Mas”.

            Keesokan harinya saat aku kembali ke kos, Adit mendatangiku dan ia benar-benar mengutarakan perasaannya di depanku. Dia adalah orang pertama yang dengan gentle melakukan hal seperti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar