Minggu, 17 Mei 2015

This is Love III

5 bulan sudah kami menjalin hubungan ini. Semuanya baik-baik saja, mungkin sesekali kami bertengkar. Namun hal itu hanya sesaat saja. Tetapi tak berselang lama ada masalah yang sedikit mengganggu hubungan kami.
            I’m still alive, I’m still alive, I’m still alive. We livin’ that, we livin’ that good life.
            “Za… Ada telpon, nih!” panggil Elin.
            Saat aku melihat layar HPku, nama yang tak pernah ku bayangkan muncul. Danu.
            “……”
            “Waalaikumsalam. Sehat. Ada apa kok nelpon aku?”
            “……”
            “Ketemu? Ngapain?”
            “……”
            “Yaudah ntar malem depan kos.”
            “Siapa? Kok rada cuek gitu? Nggak mungkin Mas Adit kan? Apa itu Danu? Kayaknya sih iya?” Elin bertanya sekaligus menjawab sendiri pertanyaannya.
            “Kamu tuh ya, kalo nanya lengkap sama jawabannya. Dasar makhluk ajaib!” aku menggeleng.
            “Ih, biarin sih! Gini-gini sahabatmu!” Elin sewot ketika aku memanggilnya makhluk ajaib.
            “Ha ha ha. Iya, Lin. Itu tadi Danu. Ngajak ketemuan. Pake acara bilang kangen segala!” aku memberitahunya tentang Danu yang ingin bertemu denganku malam ini.
            “Katanya kamu mau keluar sama Mas Adit?” tanyanya.
            “Ya emang. Yaudin ntar aku bilang aja sama Adit kalo Danu mau ketemu. Kalo sama Adit nggak kira macem-macem tuh orang.” jawabku.
            “I see. Nice idea! Paling dia minta balikan sama kamu, Za!” prediksinya.
            Aku hanya mengangkat bahuku. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh Danu hingga ia mengajakku untuk bertemu. Hal yang paling aku benci adalah setiap mantan yang telah mencampakkanku akan muncul tiba-tiba saat aku telah memiliki pasangan.
            “Lin, aku keluar yah! Ini Adit udah di depan. Kamu nggak keluar malam ini?” pamitku.
            “Ntaran mungkin, Za! Iya hati-hati. Moga si Danu nggak cari masalah dan ngerecokin kalian. Aamiin.” sahutnya.
           
            Saat menemui Adit, aku menceritakan tentang Danu. Ekspresi Adit sedikit berubah setelah mendengar ceritaku. Aku paham, pasti dia cemburu melihatku akan bertemu dengan mantan pacarku. Tapi aku meyakinkannya bahwa tidak ada apa-apa diantara kami dan aku hanya menganggapnya sebagai seorang teman saja, tak lebih.
            15 menit kemudian Danu datang dengan wajah sumringah. Namun setelah melihat Adit di sebelahku, wajahnya menegang. Ada raut tak senang di sana.
            “Hai!” sapanya.
            “Halo! Long time no see. Kenalin pacarku, Adit. Dit kenalin, Danu.” ucapku. Keduanya saling bersalaman. Aku bisa merasakan atmosfer yang mulai menegang di antara keduanya.
            “Kok diem? Katanya mau ngomong sesuatu sama aku? Ayo ngomong! Aku ada acara nih sama Adit di kampus.” aku membuka percakapan karena Danu terlihat diam saja sesampainya di sana.
            “Em… Bang Adit, boleh ngobrol berdua sama Zahra bentar?” pintanya pada Adit.
            “Ya.” jawab Adit singkat.
            “Kok kamu ngajak pacarmu, sih? Kan aku cuma pengen ketemu kamu doang!” tegurnya.
            “Apaan, sih? Suka-suka aku, dong! Lagian bentar lagi aku mau keluar bareng dia. Jadi wajarlah kalo dia ada di sini. Emang kamu mau ngomong apa sih sampe ngelarang Adit ke sini?” aku sewot mendengarnya berkata seperti itu.
            “Ya, pokoknya gitu. Aku cuma pengen ketemu kamu. Yaudah deh, aku balik aja. Dah, cantik!” Danu mengucapkan kata terakhir dengan keras. Seakan-akan sengaja agar Adit mendengarnya. Otomatis Adit langsung bangkit dan menghampiriku.
            “Maksudnya dia apa kok kayak gitu? Nggak punya etika banget! Balik nggak pamit! Nyebelin banget sih mantanmu! Udah mukanya kayak gitu pas ngeliat aku!” geramnya.
            “Entah. Udah lah, nggak usah dipikirin soal dia. Mending kita berangkat aja, yuk! Jangan emosi ya, Sayang. Keep calm, keep calm.” aku berusaha menenangkannya.
            Hari selanjutnya, Danu mulai mencoba mendeketiku. Mulai dari sering mengirimiku pesan cinta, menungguku di depan kelas, menawariku tumpangan, dan banyak cara lainnya. Namun hal ini ku rahasiakan dari Adit karena tak ingin membuatnya marah.
            Danu terus-menerus mengirimiku pesan cinta. Aku sungguh muak dengannya. Pernah sempat terlontar kata-kata kasar dariku, tetapi dia tetap saja bertingkah seperti itu. Hingga akhirnya aku menghapusnya dari kontak BBMku. Tapi meskipun begitu, dia tetap saja menggangguku melalui SMS atau di media sosial lainnya.
            Akhirnya aku membalas salah satu pesannya, “Buat apa kamu bilang kayak gitu? Buat apa? Udah terlambat banget, Dan! Udah basi buat aku! Aku udah terlanjur sakit hati sama kamu. Diputusin kamu itu udah sakit banget, apalagi ditambah kabar kamu udah punya pacar nggak berapa lama setelah putus sama aku. Kamu mikir lah, gimana perasaanku! Sekarang aku udah punya pacar. Aku udah bahagia sama Adit. Jadi tolong jangan ganggu aku lagi. Aku udah maafin kamu, tapi maaf aku nggak bisa balikan sama kamu. Aku cuma mau kita temenan aja. Nggak lebih. Tolong jangan kayak gini.
            Setelah itu, Danu tak pernah menggangguku lagi. Mungkin dia sadar bahwa perbuatannya itu salah. Tapi ternyata aku salah, yang ada Danu semakin menjadi.
           

Malam itu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar