5
bulan sudah kami menjalin hubungan ini. Semuanya baik-baik saja, mungkin
sesekali kami bertengkar. Namun hal itu hanya sesaat saja. Tetapi tak berselang
lama ada masalah yang sedikit mengganggu hubungan kami.
I’m
still alive, I’m still alive, I’m still alive. We livin’ that, we livin’ that
good life.
“Za… Ada telpon, nih!” panggil Elin.
Saat aku melihat layar HPku, nama
yang tak pernah ku bayangkan muncul. Danu.
“……”
“Waalaikumsalam. Sehat. Ada apa kok
nelpon aku?”
“……”
“Ketemu? Ngapain?”
“……”
“Yaudah ntar malem depan kos.”
“Siapa? Kok rada cuek gitu? Nggak
mungkin Mas Adit kan? Apa itu Danu? Kayaknya sih iya?” Elin bertanya sekaligus
menjawab sendiri pertanyaannya.
“Kamu tuh ya, kalo nanya lengkap
sama jawabannya. Dasar makhluk ajaib!” aku menggeleng.
“Ih, biarin sih! Gini-gini sahabatmu!”
Elin sewot ketika aku memanggilnya makhluk ajaib.
“Ha ha ha. Iya, Lin. Itu tadi Danu.
Ngajak ketemuan. Pake acara bilang kangen segala!” aku memberitahunya tentang
Danu yang ingin bertemu denganku malam ini.
“Katanya kamu mau keluar sama Mas
Adit?” tanyanya.
“Ya emang. Yaudin ntar aku bilang
aja sama Adit kalo Danu mau ketemu. Kalo sama Adit nggak kira macem-macem tuh
orang.” jawabku.
“I
see. Nice idea! Paling dia minta
balikan sama kamu, Za!” prediksinya.
Aku hanya mengangkat bahuku. Entah
apa yang ingin dibicarakan oleh Danu hingga ia mengajakku untuk bertemu. Hal
yang paling aku benci adalah setiap mantan yang telah mencampakkanku akan
muncul tiba-tiba saat aku telah memiliki pasangan.
“Lin, aku keluar yah! Ini Adit udah
di depan. Kamu nggak keluar malam ini?” pamitku.
“Ntaran mungkin, Za! Iya hati-hati.
Moga si Danu nggak cari masalah dan ngerecokin kalian. Aamiin.” sahutnya.
Saat menemui Adit, aku menceritakan
tentang Danu. Ekspresi Adit sedikit berubah setelah mendengar ceritaku. Aku
paham, pasti dia cemburu melihatku akan bertemu dengan mantan pacarku. Tapi aku
meyakinkannya bahwa tidak ada apa-apa diantara kami dan aku hanya menganggapnya
sebagai seorang teman saja, tak lebih.
15 menit kemudian Danu datang dengan
wajah sumringah. Namun setelah melihat Adit di sebelahku, wajahnya menegang.
Ada raut tak senang di sana.
“Hai!” sapanya.
“Halo! Long time no see. Kenalin pacarku, Adit. Dit kenalin, Danu.”
ucapku. Keduanya saling bersalaman. Aku bisa merasakan atmosfer yang mulai
menegang di antara keduanya.
“Kok diem? Katanya mau ngomong
sesuatu sama aku? Ayo ngomong! Aku ada acara nih sama Adit di kampus.” aku
membuka percakapan karena Danu terlihat diam saja sesampainya di sana.
“Em… Bang Adit, boleh ngobrol berdua
sama Zahra bentar?” pintanya pada Adit.
“Ya.” jawab Adit singkat.
“Kok kamu ngajak pacarmu, sih? Kan
aku cuma pengen ketemu kamu doang!” tegurnya.
“Apaan, sih? Suka-suka aku, dong!
Lagian bentar lagi aku mau keluar bareng dia. Jadi wajarlah kalo dia ada di
sini. Emang kamu mau ngomong apa sih sampe ngelarang Adit ke sini?” aku sewot
mendengarnya berkata seperti itu.
“Ya, pokoknya gitu. Aku cuma pengen
ketemu kamu. Yaudah deh, aku balik aja. Dah, cantik!” Danu mengucapkan kata
terakhir dengan keras. Seakan-akan sengaja agar Adit mendengarnya. Otomatis
Adit langsung bangkit dan menghampiriku.
“Maksudnya dia apa kok kayak gitu?
Nggak punya etika banget! Balik nggak pamit! Nyebelin banget sih mantanmu! Udah
mukanya kayak gitu pas ngeliat aku!” geramnya.
“Entah. Udah lah, nggak usah
dipikirin soal dia. Mending kita berangkat aja, yuk! Jangan emosi ya, Sayang. Keep calm, keep calm.” aku berusaha menenangkannya.
Hari selanjutnya, Danu mulai mencoba
mendeketiku. Mulai dari sering mengirimiku pesan cinta, menungguku di depan
kelas, menawariku tumpangan, dan banyak cara lainnya. Namun hal ini ku
rahasiakan dari Adit karena tak ingin membuatnya marah.
Danu terus-menerus mengirimiku pesan
cinta. Aku sungguh muak dengannya. Pernah sempat terlontar kata-kata kasar
dariku, tetapi dia tetap saja bertingkah seperti itu. Hingga akhirnya aku
menghapusnya dari kontak BBMku. Tapi meskipun begitu, dia tetap saja
menggangguku melalui SMS atau di media sosial lainnya.
Akhirnya aku membalas salah satu
pesannya, “Buat apa kamu bilang kayak gitu? Buat apa?
Udah terlambat banget, Dan! Udah basi buat aku! Aku udah terlanjur sakit hati
sama kamu. Diputusin kamu itu udah sakit banget, apalagi ditambah kabar kamu
udah punya pacar nggak berapa lama setelah putus sama aku. Kamu mikir lah,
gimana perasaanku! Sekarang aku udah punya pacar. Aku udah bahagia sama Adit.
Jadi tolong jangan ganggu aku lagi. Aku udah maafin kamu, tapi maaf aku nggak
bisa balikan sama kamu. Aku cuma mau kita temenan aja. Nggak lebih. Tolong
jangan kayak gini.”
Setelah itu, Danu tak pernah menggangguku
lagi. Mungkin dia sadar bahwa perbuatannya itu salah. Tapi ternyata aku salah,
yang ada Danu semakin menjadi.
Malam
itu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar