Ku
kira cinta itu adalah perasaan yang menghangatkan bagi yang merasakan. Perasaan
yang menyenangkan dan menggairahkan. Namun apa yang telah ku alami sekarang
telah mengubah pandanganku tentang apa itu cinta. Perasaan bahagia itu hanya
sesaat bagiku. Yang tersisa hanyalah rasa sakit atas sebuah pengkhianatan dari
seseorang yang dulu ku sebut sebagai kekasih.
“Kita temenan aja ya?”
“Kenapa? Kenapa tiba-tiba minta
putus? Aku punya salah apa? Kenapa mendadak gini?”
Aku meneteskan air mataku kala
membaca pesan darinya yang dikirim beberapa hari yang lalu. Sungguh sebuah
kejutan yang tak pernah ku bayangkan, bahkan tak pernah ku harapkan bakal
terjadi. Imajinasi indah tentang menghabiskan waktu bersamanya kandas setelah
membaca 4 kata itu.
“Aku udah nggak nyaman sama kamu.”
Itu alasan yang ia katakan padaku.
Sungguh tak masuk akal. Setelah 4 bulan menjalani hubungan yang menurutku tak
pernah ada masalah yang sangat fatal, dia malah berkata seperti itu. Mungkin
selama ini aku telah melakukan sesuatu yang mengusik kenyamanannya, tapi apa
itu? Aku pun tak tahu karena dia tak pernah menunjukkan atau pun mengeluh akan
sikapku yang membuatnya tak nyaman.
Hari-hari ku lalui dengan kesedihan
yang mendalam. Aku mulai tak selera makan, namun terkadang masih ku paksakan
agar Mama tak mengetahui keadaanku. Namun pada akhirnya Mama mengetahuinya.
“Akhir-akhir ini Mama lihat selera
makanmu menurun. Ada apa, Nak?” tanya Mama.
“Nggak papa kok, Ma. Lagi pengen
diet, biar tetep kelihatan sexy. Ha ha.” aku mencoba untuk mengalihkan
kecurigaan Mama.
“Kamu itu nggak pinter bohong,
Sayang. Cerita aja sama Mama. Ada hubungannya dengan Danu?” pertanyaan Mama
benar 100%. Aku mengangguk dan menceritakan segalanya kepada Mama.
Ohya, aku belum berkenalan. Namaku
Azzahra Ariesti Liana. Semua orang memanggilku Zahra. Saat ini aku adalah
mahasiswi Sastra Inggris semester 2 di sebuah perguruan tinggi negeri. Terlahir
sebagai anak tunggal di sebuah keluarga yang kondisi perekonomiannya di atas
rata-rata tak membuatku menjadi anak manja. Orang tuaku mendidikku agar menjad
gadis yang mandiri.
“Danu, aku kangen kamu.” batinku
dalam hati.
Malam ini aku tak sengaja membuka
dinding facebooknya. Dan ada seorang gadis bernama Vira menandainya dalam
sebuah status. Status yang sangat tak ingin ku baca. “Aku juga sayang kamu,
Danu.”
Ya, malam ini aku merasa ada tombak
yang menusuk hatiku. Baru 2 minggu Danu dan aku putus, sekarang dia telah
memiliki kekasih baru. Sungguh aku tak menyangka dia seperti itu. Tangisku
meledak seketika. Tak menyangka akan merasakan patah hati yang teramat sangat
seperti ini.
Namun entah mengapa aku masih saja
menghubunginya melalui BBM atau SMS. Padahal aku mengetahui dia telah bersama
orang lain. Aku akui aku memang salah, tetapi aku tetap saja melakukannya. Jelas
cemburu akan hinggap di hati kala Danu menulis status tentang kekasihnya itu.
Aku berterus terang padanya bahwa aku cemburu melihatnya melakukan itu. Bodoh
memang, tapi itu lah yang ku lakukan saat ini. Elin, sahabat karibku mencegahku
untuk melakukan hal bodoh itu.
“Cowok kayak gitu jangan
terus-terusan digituin. Lama-kelamaan dia ngelunjak dan manfaatin kamu
nantinya. Udah sih, kan masih ada Mamamu dan aku di sini. Ngapain kamu masih
berhubungan sama cowo bejat kayak dia?” ceramahnya.
“Tapi aku masih sayang sama dia,
Lin. Menurutku Vira itu nggak baik buat Danu. Dari status-status di
facebooknya, dia sering ngomong kasar. Cewek kayak gitu nggak pantes buat Danu.
Aku yang lebih pantes buat dia, Lin.” aku mencoba tetap membela Danu.
“Bodoh! Kamu bodoh! Lupain dia, Za!
Jijik aku lihat kondisimu sekarang! Badan kurus, nggak punya semangat hidup,
dan masih ngarepin cowok tolol kayak si Danu! Malah kamu yang nggak pantes buat
Danu. Kamu itu cantik, pinter, baik pula! Nggak pantes lah sama cowok kayak dia.
Aku yakin pasti ada yang lebih baik dari Danu!” Elin geram mendengar
penjelasanku.
Aku hanya tersenyum melihat Elin
memarahiku seperti ini. Setidaknya masih
ada orang yang benar-benar peduli padaku. Aku bersyukur memiliki sorang sahabat
sepertinya. Meskipun terkadang dia seperti anak kecil yang harus selalu
diingatkan, tapi aku menyayanginya seperti saudariku sendiri.
Sebulan
kemudian. . .
Liburan
semester telah berakhir. Aku harus kembali ke kota perantauan dan berpisah
dengan Mama. Perasaanku masih tak menentu, masih mencintai Danu. Dan entah
mengapa Danu masih saja meresponku. Hal itu yang membuatku enggan untuk
berhenti menghubunginya. Aku yakin jika dia masih mencintaiku, meskipun dia
berkata bahwa telah membuang semua rasa tentangku. Aku berpikir dia berbohong.
Kini kesibukan di kampus mulai
efektif. Setidaknya hal itu sedikit menyita waktuku untuk bergalau ria.
Teman-temanku menanyakan apa yang terjadi padaku hingga badanku menjadi kurus
dan aku tak lagi ceria seperti dulu. Sakit adalah alasan terampuhku untuk
menjawab pertanyaan teman-temanku di kampus.
Suatu hari ada seorang temanku yang
bernama Gio mendekat dan bertanya padaku.
“Aku semalem liat Danu jalan sama
cewek. Kalian putus ya?” tanyanya penasaran.
“Iya.” aku menjawab singkat
“Pantes. Kok bukan jalan sama kamu.
Tapi ceweknya jelek, lebih cantik kamu kok.” gombalnya seketika.
“Ah, sudahlah. Nggak usah bahas
Danu.” aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan tentang Danu dan
kekasihnya. Dan berita putusnya aku dan Danu menyebar ke semua teman-temanku.
Mereka akhirnya mengetahui penyebab utama perubahan yang terjadi padaku.
“Salam Pers Mahasiswa! Dimohon
kedatangannya kepada anggota LPM FANATIK …” begitulah pesan yang ku terima di
BBM. Aku adalah anggota pers di kampusku. Dan malam ini adalah waktu berkumpul
kami yang pertama setelah terpilihnya Mas Rian sebagai ketua umum yang baru.
Setibanya
di sana, beberapa orang telah berkumpul di taman kampus. Mas Lukman menyapaku
dengan pertanyaan yang sangat menohok, “Gimana, udah jomblo belum?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar