Minggu, 17 Mei 2015

This is Love

Ku kira cinta itu adalah perasaan yang menghangatkan bagi yang merasakan. Perasaan yang menyenangkan dan menggairahkan. Namun apa yang telah ku alami sekarang telah mengubah pandanganku tentang apa itu cinta. Perasaan bahagia itu hanya sesaat bagiku. Yang tersisa hanyalah rasa sakit atas sebuah pengkhianatan dari seseorang yang dulu ku sebut sebagai kekasih.
            “Kita temenan aja ya?”
            “Kenapa? Kenapa tiba-tiba minta putus? Aku punya salah apa? Kenapa mendadak gini?”
            Aku meneteskan air mataku kala membaca pesan darinya yang dikirim beberapa hari yang lalu. Sungguh sebuah kejutan yang tak pernah ku bayangkan, bahkan tak pernah ku harapkan bakal terjadi. Imajinasi indah tentang menghabiskan waktu bersamanya kandas setelah membaca 4 kata itu.
            “Aku udah nggak nyaman sama kamu.”
            Itu alasan yang ia katakan padaku. Sungguh tak masuk akal. Setelah 4 bulan menjalani hubungan yang menurutku tak pernah ada masalah yang sangat fatal, dia malah berkata seperti itu. Mungkin selama ini aku telah melakukan sesuatu yang mengusik kenyamanannya, tapi apa itu? Aku pun tak tahu karena dia tak pernah menunjukkan atau pun mengeluh akan sikapku yang membuatnya tak nyaman.
            Hari-hari ku lalui dengan kesedihan yang mendalam. Aku mulai tak selera makan, namun terkadang masih ku paksakan agar Mama tak mengetahui keadaanku. Namun pada akhirnya Mama mengetahuinya.
            “Akhir-akhir ini Mama lihat selera makanmu menurun. Ada apa, Nak?” tanya Mama.
            “Nggak papa kok, Ma. Lagi pengen diet, biar tetep kelihatan sexy. Ha ha.” aku mencoba untuk mengalihkan kecurigaan Mama.
            “Kamu itu nggak pinter bohong, Sayang. Cerita aja sama Mama. Ada hubungannya dengan Danu?” pertanyaan Mama benar 100%. Aku mengangguk dan menceritakan segalanya kepada Mama.
            Ohya, aku belum berkenalan. Namaku Azzahra Ariesti Liana. Semua orang memanggilku Zahra. Saat ini aku adalah mahasiswi Sastra Inggris semester 2 di sebuah perguruan tinggi negeri. Terlahir sebagai anak tunggal di sebuah keluarga yang kondisi perekonomiannya di atas rata-rata tak membuatku menjadi anak manja. Orang tuaku mendidikku agar menjad gadis yang mandiri.
            “Danu, aku kangen kamu.” batinku dalam hati.
            Malam ini aku tak sengaja membuka dinding facebooknya. Dan ada seorang gadis bernama Vira menandainya dalam sebuah status. Status yang sangat tak ingin ku baca. “Aku juga sayang kamu, Danu.”
            Ya, malam ini aku merasa ada tombak yang menusuk hatiku. Baru 2 minggu Danu dan aku putus, sekarang dia telah memiliki kekasih baru. Sungguh aku tak menyangka dia seperti itu. Tangisku meledak seketika. Tak menyangka akan merasakan patah hati yang teramat sangat seperti ini.
            Namun entah mengapa aku masih saja menghubunginya melalui BBM atau SMS. Padahal aku mengetahui dia telah bersama orang lain. Aku akui aku memang salah, tetapi aku tetap saja melakukannya. Jelas cemburu akan hinggap di hati kala Danu menulis status tentang kekasihnya itu. Aku berterus terang padanya bahwa aku cemburu melihatnya melakukan itu. Bodoh memang, tapi itu lah yang ku lakukan saat ini. Elin, sahabat karibku mencegahku untuk melakukan hal bodoh itu.
            “Cowok kayak gitu jangan terus-terusan digituin. Lama-kelamaan dia ngelunjak dan manfaatin kamu nantinya. Udah sih, kan masih ada Mamamu dan aku di sini. Ngapain kamu masih berhubungan sama cowo bejat kayak dia?” ceramahnya.
            “Tapi aku masih sayang sama dia, Lin. Menurutku Vira itu nggak baik buat Danu. Dari status-status di facebooknya, dia sering ngomong kasar. Cewek kayak gitu nggak pantes buat Danu. Aku yang lebih pantes buat dia, Lin.” aku mencoba tetap membela Danu.
            “Bodoh! Kamu bodoh! Lupain dia, Za! Jijik aku lihat kondisimu sekarang! Badan kurus, nggak punya semangat hidup, dan masih ngarepin cowok tolol kayak si Danu! Malah kamu yang nggak pantes buat Danu. Kamu itu cantik, pinter, baik pula! Nggak pantes lah sama cowok kayak dia. Aku yakin pasti ada yang lebih baik dari Danu!” Elin geram mendengar penjelasanku.
            Aku hanya tersenyum melihat Elin memarahiku seperti ini. Setidaknya  masih ada orang yang benar-benar peduli padaku. Aku bersyukur memiliki sorang sahabat sepertinya. Meskipun terkadang dia seperti anak kecil yang harus selalu diingatkan, tapi aku menyayanginya seperti saudariku sendiri.
           
Sebulan kemudian. . .
Liburan semester telah berakhir. Aku harus kembali ke kota perantauan dan berpisah dengan Mama. Perasaanku masih tak menentu, masih mencintai Danu. Dan entah mengapa Danu masih saja meresponku. Hal itu yang membuatku enggan untuk berhenti menghubunginya. Aku yakin jika dia masih mencintaiku, meskipun dia berkata bahwa telah membuang semua rasa tentangku. Aku berpikir dia berbohong.
            Kini kesibukan di kampus mulai efektif. Setidaknya hal itu sedikit menyita waktuku untuk bergalau ria. Teman-temanku menanyakan apa yang terjadi padaku hingga badanku menjadi kurus dan aku tak lagi ceria seperti dulu. Sakit adalah alasan terampuhku untuk menjawab pertanyaan teman-temanku di kampus.
            Suatu hari ada seorang temanku yang bernama Gio mendekat dan bertanya padaku.
            “Aku semalem liat Danu jalan sama cewek. Kalian putus ya?” tanyanya penasaran.
            “Iya.” aku menjawab singkat
            “Pantes. Kok bukan jalan sama kamu. Tapi ceweknya jelek, lebih cantik kamu kok.” gombalnya seketika.
            “Ah, sudahlah. Nggak usah bahas Danu.” aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan tentang Danu dan kekasihnya. Dan berita putusnya aku dan Danu menyebar ke semua teman-temanku. Mereka akhirnya mengetahui penyebab utama perubahan yang terjadi padaku.
            “Salam Pers Mahasiswa! Dimohon kedatangannya kepada anggota LPM FANATIK …” begitulah pesan yang ku terima di BBM. Aku adalah anggota pers di kampusku. Dan malam ini adalah waktu berkumpul kami yang pertama setelah terpilihnya Mas Rian sebagai ketua umum yang baru.
            Setibanya di sana, beberapa orang telah berkumpul di taman kampus. Mas Lukman menyapaku dengan pertanyaan yang sangat menohok, “Gimana, udah jomblo belum?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar