Minggu, 17 Mei 2015

This is Love V

Aku meronta dan mencoba melarikan diri dari mobilnya. Namun Danu menamparku keras. Perih. Bibirku berdarah. Tak habis akal, aku menendangnya. Tapi lagi-lagi Danu menamparku. Lalu ia melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Aku berteriak dan mencoba memukulnya. Usahaku sia-sia saja karena tenaganya memang lebih besar dariku.
            “Cewek goblok! Kalo kamu mau balikan sama aku, aku nggak akan senekat ini sama kamu. Aku ini sayang banget sama kamu, Zahra. Aku nggak bakal rela kamu jadi milik orang lain. Aku rela ngelakuin apa aja asal kamu jadi milikku lagi.”
            “Gila! Kamu gila, Danu! Balikin aku ke kos, Dan!”
            Tiba-tiba Danu menghentikan mobilnya di tengah jalan yang sangat sepi. Aku menjadi semakin takut padanya. Aku takut Danu melakukan hal yang tidak-tidak padaku. “Ya Allah, tolong hambamu ini. Tolong Zahra Ya Allah. Zahra takut. Mama, Adit, Elin, siapa pun tolong Zahra.” rintihku dalam hati.
            “Aku gila karena rasa sayangku sama kamu itu besar banget, Zahra. Ayo lah kita balikan. Aku janji nggak bakal ngulangin kesalahanku lagi. Kamu bakal aku perlakuin layaknya ratu. Kamu mau minta apa pasti aku beliin. Bukannya cewek jaman sekarang paling suka sama yang namanya shopping?”
            Plak!!
            “Aku nggak sematre itu! Jangan samakan aku sama cewek matre di luar sana!” aku berhasil menamparnya keras. Hal itu malah membuat Danu semakin nekat. Dia berusaha memelukku dan menciumku. Aku meronta dan mendang tubuhnya hingga ia sedikit membentur pintu.
            “Oh kamu mau main kasar, Sayang? Tapi tenang aku nggak akan bales kasar. Kita lakuinnya santai aja. Lagian di sini nggak ada orang. Nggak akan ada yang tau.”
            “Kamu mau apa, Danu?! Jangan macem-macem sama aku! Please!!”
            “Aku nggak bakal apa-apain kamu kok, Sayang. Kita have fun aja kok.” Saat itu Danu mencoba merobek bajuku dengan paksa. Aku berteriak, tak peduli pita suaraku akan putus. Yang jelas usaha yang paling bisa ku lakukan hanyalah berteriak sekeras-kerasnya.
            Prang!! Kaca mobil sebelah kanan pecah. Danu ditarik oleh seseorang. Siapa? Aku penasaran. Tapi aku juga takut kalau itu juga orang jahat. Tapi sayup-sayup aku mendengar suara seseorang yang ku kenal. Apakah itu Adit?
            “Brengsek, lu! Lu apain pacar gua, ha?! Gila, lu!”
Aku mencoba mengintip. Itu Adit! Pukulan bertubi-tubi mendarat di wajah dan perut Danu. Aku khawatir Adit kalap, segera aku melerainya.
“Udah, Dit. Jangan diterusin. Kita lapor polisi aja.”
“Halo, kantor polisi? Saya mau melaporkan telah terjadi kasus penculikan, Pak. Kami sekarang berada di … ” setelah menelpon polisi, Adit mengikat tangan dan kaki Danu dengan tali sepatunya, dan dia dimasukkan ke dalam mobil agar tak bisa kabur.
“Kamu nggak papa kan, Sayang? Kamu nggak diapa-apain kan sama dia? Itu bibir kamu kenapa berdarah, Sayang? Pipi kamu juga merah. Ya ampun, aku lalai ngejaga kamu. Maaf, Sayang.” ada nada menyesal di sana.
“Aku nggak papa kok. Makasih udah dating nyelametin aku. Aku nggak tau gimana jadinya kalo kamu nggak dateng. Aku takut banget tadi. Makasih ya, Sayang.” aku memeluknya erat dan menangis sesenggukan.
            “Syukurlah, Za. Tadi Elin telpon aku, bilang kalo dia denger teriakanmu. Dan waktu dia keluar, kamu udah masuk ke dalam mobil. Untung dia sempat ingat plat nomor mobilnya Danu. Dan kebetulan juga aku ada di WDK. Aku takut nggak bakal ngeliat kamu lagi. Alhamdulillah kamu masih dijaga sama Allah.”
            Beberapa menint kemudian rombongan polisi datang dan meringkus Danu. Mereka juga meminta kami untuk ikut ke kantor polisi sebagai saksi. Setelah selesai diinterogasi, Adit dan aku diperbolehkan pulang. And luckily, kami akan dikawal oleh 2 orang polisi. Saat hendak meninggalkan kantor polisi, Danu kembali berulah.
            “Zahra! Aku cinta sama kamu! Aku nggak rela kamu jadi milik orang lain! Zahra jangan tinggalin aku! Aku sayang kamu, Zahra!” teriaknya dari dalam sel.
            “Cowok psikopat kayak lu nggak pantes ngomong sayang sama Zahra! Kalo emang lu sayang sama dia, lu nggak bakal ngelakuin hal nekat kayak tadi!” bentak Adit.
            “Udah ah, nggak usah ditanggepin. Yuk, pulang! Udah ditungguin sama pak polisinya, tuh.” ajakku.
            Dan akhirnya kami pulang dengan dikawal oleh 2 orang polisi. mereka hingga kami sampai di kosku. Di sana Elin dan teman-teman yang lain terlihat sedang menunggu kami. Saat melihatku, Elin langsung memelukku. Teman-teman yang lain juga ikut mengerumuniku. Kemudian kami berterima kasih kepada polisi yang telah mengantarku dan Adit.
            “Makasih ya girls udah mau nungguin aku. Dan makasih juga udah ngobatin aku. Tapi aku boleh minta waktu berdua aja sama Adit, please?” pintaku.
“Ya tentu boleh banget. Silahkan nikmati waktu berduaannya. Aku jamin nggak bakal ada yang ngintip kok, Za! Ya paling Cuma aku doang. Ha ha ha.” ledek Elin.
 Setelah semua teman-temanku masuk ke dalam kamar masing-masing, ku sandarkan kepala di bahu Adit. Dia merangkulku agar mendekat ke tubuhnya. Aku berusaha memejamkan mataku, mencoba menghapus kejadian yang baru saja menimpaku.
            “Aku takut, Dit. Aku nggak pernah ngebayangin Danu bakal se nekat itu.” lirihku.
“Udah, Sayang. Kamu nggak usah takut. Aku janji bakal bener-bener ngejagain kamu. Dan semoga kejadian kayak gini nggak akan terulang lagi. Aku sayang kamu, Zahra.” ia menatapku dalam. Kemudian mengecup keningku lembut.
Thanks for everything. I love you too.” aku berbisik di telinganya. Ia hanya tersenyum.
Malam yang mencekam dan takkan terlupakan. Terima kasih Ya Allah telah menyelamatkan Zahra dengan perantara Adit. Semoga kejadian seperti ini tidak pernah terjadi lagi. Elin, Adit, dan yang lain, terima kasih banyak.
Kini aku sadar, ini lah pahit manisnya cinta. Tak selamanya dalam menjalin hubungan akan berjalan mulus. Terkadang masalah pelik juga menghiasi perjalanan ini. Namun itu lah yang membuat semuanya seimbang. Ada hitam ada putih, ada siang ada malam, ada cinta ada masalah, ada masalah pasti ada jalan keluarnya. Dan jalan keluar dari masalah inilah yang akan mengubah mindset kita menjadi lebih dewasa. Dari masalah ini kita juga bisa belajar tentang bagaimana sikap pasangan kita dalam menghadapi masalah. Dewasakah dia? Kuatkah dia? Karena hanya pasangan yang benar-benar mencintai kita yang akan tetap bertahan meskipun masalah yang datang sangat pelik.


Readers, this is life. And this is love.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar