Kamis, 09 Juli 2015

Kamu My Lovely 2

            “Arya! Ngapain duduk sendirian? Ayo masuk!” Putri membuyarkan lamunan Arya akan gadis itu.
            Saat bangkit ada sesuatu yang terjatuh dari pangkuan Arya. Ternyata sapu tangan gadis itu tertinggal. Sapu tangan berwarna biru muda yang kini di beberapa sisinya ada bercak darahnya.
            “Itu sapu tangan siapa, Ar?” tanya Putri.
            “Punyaku. Masuk, yuk!” jawabnya pendek.

            Beberapa hari kemudian ada penerimaan anggota baru di LPM FANATIK. Arya adalah salah satu anggotanya. Sebenarnya dia malas bertemu dengan anggota baru seperti ini, karena pasti banyak yang sok-sokan tebar pesona. Namun karena jabatannya sebagai wakil ketua dia akhirnya datang juga.
            Dari kerumuman anggota baru, ada salah satu anggota yang membuatnya tertarik. Siapa lagi kalau bukan gadis yang menabrak Arya waktu itu. Ada niat untuk menyapanya, namun Arya mengurungkan niatnya karena dia belum tahu namanya.
            “Tunggu sampai aku tahu namanya dulu, deh!” ucapnya dalam hati.
            Semua anggota baru diwajibkan mengisi formulir yang berisi beberapa pertanyaan seputar diri sendiri dan tentang keorganisasian. Setelah selesai mengisinya, kemudian mereka diwawancarai satu-persatu. Hingga tiba saatnya gadis itu. Entah mengapa Arya merasa gugup, namun di lain sisi dia sangat senang karena bisa bertemu dengannya lagi.
            “Salam Pers Mahasiswa! Kenalkan namaku Regina Zahrantiara Prastika. Panggil aja Gina.” ucapnya lantang.
            “Apa? Rengginang?” sahut Arya spontan dan mendapat satu pukulan keras di pahanya dari Herman, si ketua umum. “Reeegiinaaaa, Arya!”
            “Eh, aduh. Maaf maaf. Yah namanya juga orang nggak denger. Hehe, maaf yah Gina.” Arya tertawa kagok kepada Gina. Yang dituju terlihat menarik nafas dan memutar bola matanya.
           
            Akhirnya sesi wawancara selesai juga. Mentari mulai condong ke arah barat. Terlihat Gina berjalan sendirian menuju gerbang kampus.
            “Hay Rengginaaang! Eh salah, Gina maksudnya. Hehe. Sendirian? Mau aku antar?” sapa Arya jahil.
            “Dih, Kakak nyebelin. Nggak, usah Kak. Aku dijemput, kok. Makasih ya tawarannya. Ohya, luka Kakak sudah sembuh?” tanya Gina. Ternyata dia masih mengingat Arya dan kejadian waktu itu.
            “Udah, kok! Makasih juga ya waktu itu udah mau ngobatin aku. Ohya, sapu tanganmu ada di rumahku. Aku cuci karena ada darahku di sana.”
           “Sama-sama. Maaf yah waktu itu nabrak Kakak sampai luka begitu. Soal sapu tangan itu woles aja, Kak.” ujarnya dengan tersenyum manis, membuat jantung Arya berdegup kencang. “Ohya, aku udah dijemput. Aku duluan ya, Kak Arya.”
            Arya melambai ke arah Gina pergi. Melihat mobilnya, Arya merasa tak asing, seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Mungkinkah?

            Malamnya Arya terus memikirkan Gina. Dia menimang sapu tangan miliknya yang kini sudah bersih dari noda darah.  Ibunya memperhatikan tingkah putra sulungnya yang senyum-senyum sendiri.
            “Mau senyum-senyum sendiri sampai kapan, Arya?” ucapan Ibunya mengagetkannya.
    “Duh, Ibu ngagetin aja! Arya nggak senyum-senyum sendiri kok!” kemudian Arya menyembunyikan sapu tangan biru itu di bawah bantal.
            “Mau bohongin, Ibu? Kamu sedang jatuh cinta, ya? Ini kali pertama Ibu melihatmu seceria ini setelah kamu putus dengan Vira.” ucap Ibu sambil menghampiri Arya di tempat tidurnya.
            “Mungkin, Bu. Tapi Arya nggak yakin juga. Lagian kita juga baru ketemu dan baru tadi sore Arya tahu namanya. Dan tadi gadis itu nggak sengaja sudah Arya buat kesal, Bu. Hahaha.” kemudian Arya menceritakan kejadian saat wawancara tadi dan juga saat mereka pertama kali bertemu. Ibu tersenyum melihat putra sulungnya kembali ceria seperti semula.
            “Ibu senang kamu bisa ceria lagi, Sayang.” Ibu mengelus kepala Arya.
            “Menurut Ibu apa Arya jatuh cinta sama Gina?” tanyanya.
         “Seiring dengan berjalannya waktu kamu pasti tahu sendiri.” Ibu tersenyum kemudian pergi menuju kamar adiknya yang bersebelahan dengan kamarnya.
            “Gina, mungkin aku bener-bener jatuh cinta sama kamu.” ucapnya sebelum terlelap.
           
          Di ruang kesekretariatan, Arya melihat Herman sedang sibuk membaca sebuah kertas. Ternyata pengumuman hasil wawancara anggota baru LPM FANATIK sudah keluar. Arya langsung mencari nama Gina. Ternyata dia lolos! Perasaan senang semakin membuncah di dadanya.
         “Lu ngapa dah? Seneng banget romannya? Lu kepincut sama anggota baru, yah? Wah wah, rekor jomblo lu bakal pecah kayaknya. Hahaha. Siapa sih, Ar?” goda Herman.
            “Sotoy, lu!”
        “Jangan jangan, cewek yang waktu itu? Siapa ya namanya? Re.. Re.. Nah ketemu! Regina Zahrantiara Prastika. Ya kan, Ar? Gue sahabatlu, Ar! Masih mau bohong?”
            “Emang kelihatan banget ya kalo gue lagi jatuh cinta?” tanyanya polos.
          “Tingkahlu beda, Boy. Lu ceria banget semenjak ketemu cewek itu. Ya gue nebak-nebak aja sih sebenernya. Emang lu beneran kesemsem sama Gina?”
        Akhirnya Arya menceritakan kejadian awal bertemu dengan Gina pada Herman. Herman tersenyum bungah mendengar cerita Arya. Dia bangga bahwa akhirnya Arya mau membuka hatinya lagi.
         Setelah selesai menceritakan dan mendengar ceramah Herman yang pada intinya senang melihat Arya kembali ceria dan bisa jatuh cinta lagi, ia kembali ke kelas dengan wajah yang sangat ceria.
           “Put, Arya kenapa tuh? Seneng banget kelihatannya. Kalian udah jadian?” tanya Rama pada Putri.
           “Nggak! Dia ngedeketin aku aja nggak pernah, boro-boro jadian!” sungutnya. Saat hendak bertanya pada Arya, Pak Bangun telah tiba. Jadi ia menunda niatnya itu.
            Pelajaran berakhir 90 menit kemudian, saat ada jeda istirahat Arya memanfaatkannya untuk shalat di masjid kampus dan mengisi perutnya yang kosong di kantin. Di kantin ia bertemu dengan Putri dan Rama. Mereka berdua sudah dianggap sahabat oleh Arya, walau terkadang ia sering minder jika bersama mereka. Mereka adalah anak konglomerat kaya raya, sedangkan Arya yang telah yatim itu hanyalah hidup dengan usaha catering ibunya dan dengan gajinya sebagai penulis tetap di sebuah koran terkenal.
             “Arya, sini!” ajak Putri menunjuk ke bangku kosong di depannya.
            “Kamu mau pesen apa, Ar? Aku beliin yah?” Putri menawari Arya.
            “Nggak usah, Put. Makasih. Aku bawa duit kok.” tolaknya dengan halus.
           Kemudian Arya memesan nasi pecel, dan setelah pesanannya selesai Arya kembali ke mejanya. Saat hendak menyendok nasinya, ia melihat Gina tak jauh dari tempatnya sedang kebingungan mencari meja kosong.
           “Gina! Sini!” Arya melambai pada Gina. Kemudian Gina menghampirinya dengan bawaan yang lumayan banyak.
            “Boleh aku duduk di sini, Kak?” tanyanya.
            “Boleh kok. Santai aja.” lalu Gina duduk di sebelah Arya. “Ohya, guys kenalin ini juniorku di FANATIK.”
            “Kamu kecil-kecil makannya banyak juga ya?” Arya baru menyadari bahwa makanan yang dibawa Gina lebih banyak daripada miliknya. Gina hanya tersenyum malu.
            “Kak Arya, aku lolos tes wawancara, lho.” ucapnya sambil tersenyum manis.
            “Oh ya? Selamat, ya. Hebat deh bisa lolos.” Arya berpura-pura terkejut dengan ucapan Gina. Kemudian mereka melanjutkan obrolan tentang FANATIK, Arya terlihat lebih banyak mengobrol dengan Gina, membuat Putri jengkel dan cemburu. Begitu pun Rama. Rama tampaknya menaruh hati pada Gina.
            “Mmh, Gina balik duluan yah, Kak. Makasih. Maaf jadi ganggu kalian bertiga.”
       “Nggak kok, Gin. Kita nggak merasa terganggu. Kalau kamu nggak nemu tempat duduk, langsung cari aku aja. Eeh maksudku, cari kita aja.” sahut Rama bersemangat.
        “Iya, makasih sekali lagi. Gina pamit yah. Daah kakak-kakak.” gadis itu melambai kepada mereka bertiga.
            “Cakep banget tuh cewek. Lu punya nomer handphonenya nggak, Ar?” tanya Rama.
        “Nggak.” Arya cemburu melihat tingkah Rama yang seperti itu terhadap Gina. “Guys, aku duluan. Ada perlu.”
            Putri sangat kecewa siang itu dengan sikap Arya yang seakan-akan tidak menggubrisnya.

       Acara Pra-dikalat FANATIK akhirnya tiba. Semua anggota baru yang telah lolos seleksi berkumpul dan membawa tugas yang diberikan waktu itu. Dari semua anggota, terlihat Gina yang membawa barang paling banyak. Arya ingin tertawa namun tidak jadi karena takut menyinggungnya.
            Acaranya berjalan lancar. Dan Arya mulai mengetahui seperti apa gadis pujaannya itu setelah seharian bersama dengannya. Tak luput Arya juga memperhatikan anggota baru yang lain untuk dinilai, meskipun lebih banyak tersita pada Gina. Waktu ishoma telah tiba, semuanya beristirahat untuk shalat dan makan siang. Herman dan Arya mendekati kerumuman anggota baru yang di dalamnya ada Gina.
         “Kamu kecil-kecil makannya banyak juga ya, Gin?” tanya Herman sembari untu menggodanya. Arya tertawa mendengarnya.
          “Ih, ketua sama wakil sama aja. Gina makan banyak biar sehat, Kak.” gerutunya.
        “Nggak takut gendut? Biasanya cewek kan takut gendut, ya nggak Ren?” Herman bertanya pada Reni yang duduk di sebelahku. Reni hanya nyengir kuda.
          “Nggak. Masih bisa makan enak aja udah alhamdulillah, Kak. Makanan itu rezeki, nggak boleh ditolak dan kita juga nggak boleh milih-milih. Di luar sana banyak yang pengen makan kayak kita tapi nggak bisa karena kondisi ekonomi mereka.” ungkapnya Gina gemas dengan pertanyaan Herman.

    “Oh.. Ciee jiwa sosialisnya keluar. Ohya, Gina udah punya pacar?” lagi-lagi Herman menggodanya. Arya kaget dengan pertanyaan Herman. Karena ia juga belum tahu apakah gadis pujaannya itu masih jomblo atau nggak.

So, apa Gina jomblo? Atau sudah punya kekasih? Ditunggu aja yah kelanjutannya :)

Kamu My Lovely

           Terik mentari terasa hangat di kulit. Kendaraan mulai merayap memadati jalanan dan kepulan asap ikut mewarnai situasi pagi ini. Arya terlihat santai mengendarai sepeda motornya. Hari ini kuliahnya Pak Bangun, nggak boleh telat. Batinnya dalam hati. Di jalan ia melihat ada bapak-bapak yang mobilnya mogok.
            “Mobilnya kenapa, Om?” tanyanya.
            “Ini mogok, Nak.” keluhnya.
            “Boleh saya bantu, Om? Saya yang dorong, Om yang setir ya?”
            “Nggak ngerepotin, Nak?”
            “Nggak kok, Om.”
            Arya menitipkan motornya di warung kenalannya, kemudian Arya membantu mendorong mobilnya bapak itu hingga sampai di bengkel terdekat.
            “Oh iya, kita belum berkenalan. Nama saya Aldo. Nama kamu siapa, Nak?” tanya bapak itu pada Arya.
            “Saya Arya, Om.” jawabnya. Kemudian mereka berdua berbincang-bincang sembari menunggu mobil Om Aldi diperbaiki. Namun…
            “Maaf, Pak. Mobilnya belum bisa dibawa sekarang. Karena kerusakannya lumayan parah. Insyaallah besok baru selesai diperbaiki.” seorang montir di bengkel itu memberitahu Om Aldo.
            “Waduh, gimana ini?” Om Aldo terlihat kebingungan.
            “Kenapa, Om?” tanya Arya.
            Kemudian Om Aldo menjelaskan perihal mobilnya yang baru bisa digunakan besok, sedangkan beliau sebentar lagi harus memimpin jalannya rapat. Sebenarnya beliau memiliki seorang sopir pribadi dan mobil lain, tetapi sopirnya harus mengantar istrinya ke suatu tempat.
            Dengan senang hati Arya menawarkan tumpangan untuk Om Aldo yang kebetulan kantornya tidak terlalu jauh dari kampus Arya.
            “Kamu nggak kuliah, Arya? Kok mau nganterin saya?” tanya Om Aldo saat di perjalanan.
            “Tenang, Om. Saya kuliah siang.” ingkarnya.
            “Oh, gitu. Terima kasih ya, Nak. Saya jadi ngerepotin dari tadi.”
“Nggak papa kok, Om. Saya senang bisa bantu Om Aldo.”
            Beberapa menit perjalan, akhirnya mereka sampai di kantor Om Aldo. Beliau sekali lagi berterima kasih kepada Arya, dan memberinya beberapa lembar uang seratus ribu. Namun Arya yang baik hati itu menolaknya dengan halus, dengan alasan dia ikhlas membantunya.
            Arya kembali ke kampus dan disaat menuju ke kelas, dia bertemu dengan Pak Bangun.
            “Kamu tadi kemana Arya?” tanya Pak Bangun.
            “Maaf, Pak. Saya kesiangan.” Arya berbohong.
            “Lain kali jangan bolos lagi!” tegurnya.
            Arya mengiyakan teguran Pak Bangun. Kemudian dia pergi menuju kelas selanjutnya yang akan dimulai 15 menit lagi. Saat melewati kelas E 205, tiba-tiba…
            Bruk!! Ada gadis yang menubruknya. Keduanya terjatuh. Gadis itu membawa banyak tumpukan kertas, hingga menutupi pandangannya.
            “Aduh, maaf Kak. Aku nggak sengaja. Maaf banget, Kak.” ucap gadis cantik itu.
            “Hati-hati dong! Pake nabrak-nabrak segala!” ucapnya ketus.
            “Iya, Kakak. Kan aku udah minta maaf.” gerutunya.
            “Lagian mau kemana sih bawa kertas banyak begitu?” Arya membantu memungut kertas-kertas yang berserakan. Dan saat dibaca ternyata itu kumpulan cerpen karyanya.
            “Makasih ya, Kak udah bantu mungut kertas-kertasku. Maaf yah tadi nggak sengaja."
"Duh, itu sikunya berdarah, Kak!” kemudian gadis itu mengajak Arya agar pindah ke bangku yang ada di depan kelas. “Tunggu sebentar yah, Kak. Jangan kemana-kemana.”
            Lalu gadis itu muncul dengan sapu tangan yang sudah dibasahi, betadine, dan plester. Dengan sabar gadis itu mengobati luka di siku Arya. Arya tercengang melihat ada gadis yang begitu perhatian padanya, padahal mereka baru bertemu. Ada perasaan yang aneh pada diri Arya. Mungkinkah?
            “Naah, sudah selesai deh. Cepet sembuh ya Kak!” gadis itu melambaikan tangan pada Arya dan pergi.
            “Makasih.” ucapnya lirih saat gadis itu sudah menghilang dari pandangan.


Just wait for the next part :)

Minggu, 05 Juli 2015

Ini Indah :D

Punya sahabat itu beruntung sekali. Apalagi punya hobi yg sama. Yah, cewek yg berpoto dengan pose alay denganku itu salah satunya. Namanya Indah Rahmawati, panggilannya Indah (nggak demen dipanggil Wati :D), anak Psikologi (Pasti Bisa! :D), asli Probolinggo.

Sekilas (mungkin) kelihatannya orangnya kalem, tapi jangan sampai terkecoh. Orang satu ini otaknya rada gesrek. Ngomongnya ceplas ceplos, seringnya sih nyelekit malah. Tapi itu yg bikin asik!

Kita berdua kenal di FANATIK. Awalnya nggak terlalu akrab sih sama dia, tapi lama-lama jadi best partner dan kita jadi maskotnya Fanatik (Horeeee!)

 Di FANATIK dia jadi Sekretaris II dan aku anggota LITBANG. Beda jabatan emang, tapi kita sama-sama ada di Buletin Sastra. Yaah, sesama penghayal lah istilahnya. Orang ini juga jadi tempat curhat pas lagi ada unek-unek. And you know, orang segila Indah ini sering galau lhoo. Galaunya mah karena itu-itu aja. Lucu kalo lagi ngobrol bareng temen-temen lain di FANATIK, tiba-tiba dia curhat. Entah disengaja atau nggak, yg jelas itu ciri khasnya Indah.



Aku pernah kena bully waktu itu sama dia, dan dia jadi kisut gara-gara aku diemin. Ha ha. This is the good good lah ya.
Overall, I'm so glad because I have a partner like you. Thanks for everything. Let's do the best for our lovely FANATIK :D

Don't Go! 4

Cloud mencari ke segala tempat yang pernah mereka datangi, namun tak juga ia jumpai belahan jiwanya itu. Lelah, Cloud memilih duduk di trotoar. Seketika pusing menyerang kepalanya. Dia tak menyangka bahwa mantan kekasihnya akan menemukannya di tempat ini. Dan juga kejadian Zee yang menciumnya saat Tifa berada di belakangnya.

“Aaarrrgggghhh!!” erangnya.

“Honey, ayo kita pulang. Tempatmu bukan di sini. Dan lihat penampilanmu, menjijikkan sekali!” Zee muncul seraya merangkul lengan Cloud.

“Persetan! Buat apa kamu muncul sekarang?! Aku bahagia di sini, tolong tinggalkan aku dan jangan ganggu aku lagi!”

“I miss you, Honey. Maafin aku udah mutusin kamu waktu itu. Ternyata aku salah. Kita mulai dari awal lagi, yah?”

“Maaf, aku nggak bisa. Tolong pergi dari sini. Aku sudah punya kekasih dan aku bahagia bersamanya. Kembalilah, Zee. Di sini bukan tempatmu. Dan kamu bisa mencari lelaki yang lebih dariku ini. Banyak di sana yang tertarik padamu. Aku yakin kamu pasti bahagia juga.”

“Tapi Honey, aku sayangnya sama kamu. Bukan sama yang lain.”

“I said leave me alone!!” Cloud murka dan menghilang dari hadapan Zee.

Zee terdiam sesaat. Tak terima diperlakukan seperti itu, dia merencanakan sesuatu.

“Kamu kira bisa pergi dariku semudah itu, Cloud? Kekasih katamu? Ha ha. Tak akan ku biarkan siapa pun memilikimu.”


Keesokan harinya Cloud menemui Tifa di rumahnya, namun ia telah berangkat ke kampus lebih awal. Cloud menunggu Tifa pulang di taman dekat kampus. Cloud melihatnya keluar dari kampus, namun ia mengurungkan niatnya karena teringat wajah Tifa yang berlinang air mata malam itu.

Lama berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti gadisnya itu dari jauh. Sesampainya di rumah, ada seseorang di sana.

“Permisi. Maaf, Anda siapa?” sapa Tifa ramah pada seseorang itu.

“Kamu yang namanya Tiffani?”

“Iya, aku Tiffani. Maaf, ada perlu apa ya? Dan apa kita saling kenal?”

“Aku nggak mau basa-basi. Dengerin ya perempuan nggak tahu diri, Cloud itu calon suamiku. Kamu ngapain godain dia? Apa kamu nggak punya malu? Atau karena kamu nggak laku? Apa . . .”

Plak!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zee.

“Cloud! Apa-apaan kamu? Sakit tau!” Zee mengelus pipinya yang panas.

“Kamu yang apa-apaan! Sejak kapan aku jadi calon suamimu? Hubungan kita sudah berakhir lama sekali. Dan kamu yang mengakhirinya!”

“Tapi aku waktu itu salah, Honey. Aku . . .”

“Kalian berdua tolong pergi dari rumahku. Terima kasih!” pinta Tifa sambil menangis.

“Tifa, aku bisa jelasin semuanya. Ini nggak kayak yang kamu bayangin. Dengerin aku, Tifa.”

“Tolong pergi. Aku nggak mau dengar apa-apa lagi dari kamu, Cloud. Aku.. Aku benci kamu! Jangan temui aku lagi!” Tifa membanting pintu seraya berlari ke dalam rumah. Hatinya benar-benar hancur saat itu. Cloud berdiri mematung setelah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh gadisnya itu.

“See… Puas kamu bikin orang yang ku sayang nangis?! Puas kamu lihat aku dibenci oleh kekasihku sendiri? Aarrgh! Tolong kembali ke duniamu, Zee! Dan kita sudah berakhir, jadi jangan mengaku bahwa aku ini kekasihmu atau calon suamimu lagi! It is annoying!!” Cloud pergi meninggalkan Zee yang masih mengelus pipinya.



Semenjak hari itu, Cloud tidak menampakkan batang hidungnya di depan Tifa. Tifa mengira bahwa dia telah kembali ke dunianya. Namun Cloud tidak pergi, dia masih berada di sana. Memperhatikan Tifa dari jauh, melindunginya tanpa sepengetahuannya, dan menemaninya kala ia tertidur.

Hari berlalu begitu cepat, namun Tifa masih belum bisa melupakan sosok Cloud. Sesekali ia merindukan Cloud. Ia merasa sangat kesepian tanpa Cloud.

Malam itu sepulang dari café Tifa mampir ke tempat di mana Cloud menyatakan perasaannya. Ia menangis sesampainya di sana. Mengenang semua hal yang telah terjadi. Tak dapat dipungkiri bahwa ia masih mengharapkan Cloud.

“Cloud, kamu kemana? Aku rindu. Maaf atas kata-kataku waktu itu. Aku nggak benci kamu, aku.. aku sayang kamu. Aku.. aku nggak mau kehilangan kamu.” isaknya.

“Aku juga sayang kamu dan nggak mau kehilangan kamu, Tifa. Maaf juga atas semua yang telah terjadi. Aku masih di sini, aku nggak pernah pergi.”

Tifa terkejut mendengar suara itu. Saat membalikkan tubuh, ternyata sosok yang sangat dirindukannya ada di sana.

“Cloud! Kamu kemana aja?”

“Aku nggak pernah kemana-mana, Tifa.” kemudian ia memeluk hangat tubuh gadisnya itu.

“Don’t go. Aku nggak mau sendirian lagi. Maaf waktu itu aku . . .”

Cloud mengecup bibir Tifa.

“Love you. Nggak perlu minta maaf, aku ngerti kok. Aku yang seharusnya minta maaf sudah bikin kamu nangis. Bisa kan kita mulai dari awal lagi? Aku janji kejadian seperti waktu itu nggak akan terjadi lagi, dan aku akan jagain kamu. I promise.”

“Yes, Cloud. I love you too. And promise me, don’t go.”

Malam itu jadi saksi bahwa cinta sejati tak akan terpisahkan, meskipun banyak rintangan yang menghadang.

Jumat, 19 Juni 2015

Don't Go! 3

Di kampus…

Perasaan apa ini? Kenapa aku senang sekali saat  Cloud mengantarku pagi ini? Apa aku benar-benar telah jatuh cinta padanya? Pikiran Tifa dipenuhi dengan kebingungan akan perasaannya tentang Cloud.

Selama pelajaran Tifa tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Ada saja bayangan yang muncul kala ia sedang berusaha fokus pada pelajaran. Akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat di ruang kesehatan. Dan ia pun tertidur.

Waktu untuk pulang telah tiba, petugas kesehatan membangunkan Tifa yang sedang tertidur pulas. Kemudian ia kembali ke kelas untuk mengambil barang-barangnya yang masih berserakan di mejanya.

Tifa berjalan menuju gerbang seorang diri, tiba-tiba ada seseorang yang dengan jahil menutup matanya.

“Sendirian aja? Awas digebet hantu penunggu gedung ini, lho!” goda orang itu.

“Cloud! Kamu apa-apaan, sih? Bikin aku kaget aja.” Tifa memajukan bibirnya, membuat Cloud gemas melihatnya.

“Kamu imut banget sih, Tiffani!” tanpa sadar Cloud mencubit pipi chubby Tifa dengan lembut. Membuat keduanya langsung salah tingkah setelah sadar apa yang terjadi. Mereka pulang saling membisu, hanyut dalam perasaan masing-masing.

“Aku sayang kamu.” ucap keduanya dalam hati.

Saat Dewa Asmara telah menancapkan panahnya, manusia, bahkan peri pun tak dapat menahan magis yang ia berikan.

Malamnya Cloud membulatkan tekad untuk menjalankan rencananya. Ia mengajak Tifa dan kedua adiknya untuk bertamasya di taman yang tadi siang didatanginya.  Cloud juga meminta izin kepada manajer tempat Tifa bekerja, karena malam itu Tifa tidak bisa bekerja.

Sepertinya keadaan mendukung niat tulus Cloud. Rembulan bersinar terang menyinari taman, menambah keromantisan suasana saat itu. Tifa curiga akan gelagat Cloud yang sedari tadi tak tenang. Ketika ditanyakan, Cloud hanya tertawa dan berkata bahwa ia sangat senang bisa bertamasya dengan mereka.

Sesampainya di taman yang dituju, Cloud mengajak Tifa ke suatu tempat.

“Maaf sebelumnya. Mungkin ini terlalu cepat dan mendadak buatmu. Tapi aku nggak bisa…”

“Nggak bisa apa, Cloud?”

Cloud diam sejenak, menatap sosok cantik di depannya.

“Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku sayang kamu, Tiffani. Kamu mau kan jadi pendamping hidupku?”

Tifa tak menjawab. Yang keluar bukanlah kata-kata, melainkan air mata. Cloud sontak kaget melihat responnya. Dia takut telah menyakiti perasaan gadis pujaannya itu.

“Ka..m.. Kamu kenapa nangis? Maaf kalau aku bikin kamu sedih. Maaf. Aku cuma pengen kamu tau tentang perasaanku. Maaf.”

Tifa menggeleng seraya tersenyum, “Aku nggak sedih. Aku terharu dengar kata-katamu. Thanks! Aku juga sayang kamu, dan aku juga mau jadi pendamping hidupmu.”

Kemudian sebuah kecupan manis yang singkat mendarat di bibir Tifa. Keduanya lalu tersenyum dan kemudian kembali ke tempat di mana Danzel dan Marlene berada. Karena udara semakin dingin, mereka memutuskan untuk pulang. Tifa dan Cloud berjalan sambil berpegangan tangan. Malam yang sangat indah, pikir keduanya.


Beberapa bulan kemudian, Cloud telah pindah ke sebuah rumah kontrakan yang letaknya sangat dekat dengan rumah Tifa. Mereka merasa tak nyaman dengan para tetangga jika harus tinggal bersama.

Hubungan keduanya semakin langgeng, Cloud juga bekerja di café yang sama dengan Tifa. Namun unpredictable thing happens! Waktu itu Cloud sedang membuang sampah di belakang café seorang diri. Lalu ada seorang gadis yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.

“Tifaa… Di tempat kerja, tau. Kamu nggak malu diledekin orang-orang?”

“Cloud, aku merindukanmu.”

Deg! Cloud tertegun mendengar suara itu. Sosok itu bukan Tifa, melainkan seseorang yang sangat dikenalnya dahulu.
Saat membalikkan badan, ternyata perkiraan Cloud benar, “ Zee! Kamu… Kamu kok…”

Cup… Sebuah ciuman mendarat di bibir Cloud. Tak jauh dari tempat Cloud berada, Tifa berdiri mematung melihat pemandangan yang membuat hatinya mencelos. Dia merasa dikhianati, air matanya tak dapat lagi terbendung. Kemudian sebuah kalimat lirih terucap dari bibir mungilnya.


“Kamu jahat, Cloud!” kemudian ia berlari meninggalkan dua makhluk bukan manusia itu. Cloud tersadar bahwa Tifa melihatnya sedang berciuman dengan Zee. Tanpa babibu Cloud langsung mengejar Tifa yang kini telah hilang ditelan pekatnya malam.

Don't Go! 2

          “Kan aku udah bilang kalau aku ini peri. Nggak percaya sih!” sungut Cloud.

      “Kalau memang kamu ini peri, kenapa kamu nggak bisa nyembuhin luka-lukamu sendiri?” tanya Tifa masih tak percaya.

      “Karena kami memang nggak bisa menggunakan kekuatan kami untuk diri kami sendiri. Makanya aku nggak bisa nyembuhin luka-lukaku.” tuturnya.

       Akhirnya setelah mendengar penjelasan lebih tentang dunia peri, barulah Tifa percaya bahwa mereka itu nyata. Kemudian kedua adik Tifa turun menghampiri mereka.

          “Kakak, aku lapar nih. Lho, itu siapa?” tanya Marlene penasaran.

       “Dia teman Kakak. Namanya Cloud. Kamu lapar, ya? Tunggu sebentar yah, Kakak panasin makanan yang di dapur dulu. Kalian nonton TV aja.” ujarnya seraya meninggalkan mereka bertiga di sofa yang berada di ruang keluarga.

       “Kakak namanya kok lucu? Cloud kan artinya awan. Hi hi.” celetuk Marlene saat menghidupkan TV. Cloud tersenyum mendengarnya.

        “Kakak beneran temannya Kak Tifa? Aku nggak pernah lagi ketemu sama teman lelakinya Kak Tifa semenjak dia putus sama orang jahat itu.” Danzel bertanya untuk memastikan.

         “Sebenernya kami baru bertemu. Kakak kalian menolongku. Oh ya, orang tua kalian kemana?” tanyanya.

         “Mama sama Papa sudah meninggal 2 tahun yang lalu, Kak. Mereka meninggal karena kecelakaan. Jadi kami yang kami punya cuma Kak Tifa aja. Kata Kakak kita nggak boleh sedih meskipun orang tua kita sudah meninggal, karena mereka masih ngawasin kita dari Surga.” Danzel bercerita dengan nada mantab. Cloud tertegun mendengar seorang anak yang masih berumur belasan tahun begitu tegarnya saat kehilangan orang tua.

         “Makanan siap. Ayo ke ruang makan semua.” Tifa muncul dari dapur. Kedua adiknya yang sepertinya sedang kelaparan, berlari menuju ruang makan.

        “Sini aku bantu kamu berdiri. Mmh.. makanan peri itu kayak apa ya? Aku nggak tau.” ucapnya polos.

       “Sama kayak manusia kok. Jadi kamu tenang aja. By the way, thanks a lot for everything. You’re so kind to me.” Tifa merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Jantungnya berdegup kencang. Sudah lama dia tak merasakan perasaan seperti ini.

          “Kamu kenapa kok kayak orang bingung gitu?” tanya Cloud mengagetkan Tifa.

          “Hah? E… em.. Kita makan yuk! Biar kamu cepet sembuh.” seketika Tifa gelagapan. Setelah makan malam, Tifa mengizinkan Cloud untuk tidur di kamar yang kosong.


          3 bulan kemudian . . .

          Kebersamaan memunculkan rasa nyaman di hati keduanya. Benih-benih cinta mulai tumbuh. Namun tak satupun berani mengungkapkannya.

        “Dan, Marlene, Kakak berangkat ya. Kalian cepet berangkat juga ya, biar nggak telat.” seru Tifa di suatu pagi.

       “Tumben pagi banget berangkatnya?” Cloud muncul tiba-tiba saat Tifa hendak memakai sepatu.

          “Oh, iya, masih ada urusan di kampus nih.” jawabnya.

          “Boleh aku temenin? Aku pengen tahu daerah di sini.” pintanya.

          “Kalau kamu pulangnya nyasar, gimana?” Tifa lupa kalau Cloud adalah seorang peri.

       “Kamu lupa ya kalau aku ini peeee…” Tifa buru-buru membungkam mulut Cloud. Tubuh keduanya berdekatan, membuat jantung keduanya berdetak lebih cepat. Dan seketika suasana jadi canggung.

          Lalu keduanya berangkat bersama-sama. Sepanjang jalan banyak tetangganya yang menggoda Tifa karena mereka hampir tidak pernah melihatnya berjalan bersama lelaki. Cloud yang berada di sebelahnya hanya tersenyum melihat wajah gadis itu berubah menjadi merah seperti kepiting rebus. “Aku sayang kamu, Tifa.” ucapnya dalam hati.

          Setelah mengantarkan Tifa, Cloud berjalan-jalan untuk menyegarkan pikirannya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat ada sebuah taman yang cukup rindang. Cloud duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Kemudian ada seorang nenek yang menghampirinya.

          “Kamu sedang memikirkan apa anak muda?” tanyanya.

       “Masalah hati, Nek. Aku bingung. Aku menyukai seseorang yang baru ku kenal, tetapi aku sudah nyaman dengannya. Dia baik sekali padaku, padahal kami baru saja berkenalan, dan dia juga seorang pekerja keras.” Cloud menghentikan ucapannya.

        “Lalu?” Nenek itu sedikit memiringkan kepalanya agar dapat melihat ekspresi Cloud yang sedang menunduk.

        “Aku bingung dengan perasaanku. Apakah perasaan nyaman ini hanya sekedar tanda terima kasih atau aku jatuh cinta padanya, aku tak tahu, Nek.” ungkapnya.

        “Mudah saja. Kalau kau jatuh cinta padanya, kau akan merasa bahagia hanya dengan melihatnya tersenyum padamu. Dan juga kau juga tak akan bisa berlama-lama jauh darinya.” Nenek itu tersenyum pada Cloud.

    Cloud diam sesaat dan memejamkan matanya. Memikirkan apa yang telah dirasakannya selama ini. Dan akhirnya dia yakin bahwa telah jatuh cinta pada gadis asing yang baru dikenalnya beberapa bulan itu. Malaikat penyelamatku, Tifani.


      “Oke! Terima kasih ya, Nee.. nek.” Cloud kaget karena nenek yang tadi di sebelahnya tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Namun ia tak mau ambil pusing. Ia merencanakan untuk menyatakan perasaannya pada Tifa malam ini di tempatnya berada sekarang.

Don't Go! 1

       Peri itu hanya khayalan. Peri itu hanya ada di dunia dongeng. Peri itu tidak nyata.

          Setidaknya itu yang dipercaya oleh Tifa sebelum ia bertemu dengan seorang pemuda yang terluka di depan café tempatnya bekerja. Tifa tak tahu darimana ia datang dengan kondisi tubuh penuh luka seperti itu.

          “Kamu kenapa bisa luka kayak gini?” tanya Tifa pada pemuda itu.

          “Tolong.. a.. ku..” ucapnya lirih.

          Karena tak tega dengan kondisinya yang penuh luka, Tifa berpamitan untuk pulang lebih awal kepada manajer café. Tifa membopong pemuda itu dengan susah payah. Untungnya, letak rumahnya tak begitu jauh dari café.

          “Marlene… Danzel… bisa tolong bukakan pintunya?” seru Tifa kepada kedua adiknya yang sedang berada di rumah.

          “Kakak kok udah pulang? Ada yang ke…”

         “Tolong bantu Kakak, Danzel.” Tifa dibantu oleh adik lelakinya meletakkan pemuda yang terluka itu di sofa.

      “Kamu tolong jaga dia sebentar, ya. Kakak mau ambil kota P3K dulu.” perintah Tifa. Danzel memandangi pemuda itu dengan heran. Pemuda itu balas memandangnya.

          “Hey jagoan makasih, ya. Aku Cloud.” Cloud tersenyum ramah.

         “Iya, Kak. Aku Danzel. Kakak kenapa babak belur gini? Habis tengkar ya?” tanya Danzel penasaran. Cloud hanya tersenyum, membuat Danzel semakin penasaran.

          “Marlene mana, Dan?” Tifa muncul dengan membawa kotak P3K dan kompres.

          “Di kamar, Kak. Lagi belajar.” sahutnya.

          “Terus kamu kenapa nggak belajar juga? Belajar gih! Katanya mau jadi juara kelas terus?” ucap Tifa.

       “Iya, Kak. Ini otewe. Cepet sembuh ya, Kak Cloud.” Danzel meninggalkan Tifa dan Cloud dengan langkah sedikit berlari.

       Seketika suasana hening. Tifa menyeka darah yang sudah agak kering di pelipis Cloud. Kemudian dia mengobatinya dengan betadine dan menutup lukanya dengan kasa dan plester. Begitu seterusnya hingga semua luka selesai dibersihkan dan tertutup kasa.

          “Makasih banyak.” ucap Cloud singkat.

          “No problem. By the way, namamu Cloud? Aku Tiffani. Panggil aja Tifa.” jawabnya seraya memperkenalkan diri. Cloud hanya mengangguk lemah seraya tersenyum tipis.

          “Kamu habis berkelahi sama siapa? Kok sampai babak belur gitu? Dan sepertinya kamu bukan penduduk daerah sini ya?” tanya Tifa seperti menginterogasi.

          “Entah kamu akan bakal percaya atau nggak. Aku ini sebenarnya bangsa peri. Aku dikeroyok sama selingkuhan kekasihku, eh maksudku mantan kekesih. Dan entah bagaimana bisa kesasar ke dunia manusia ini.” jelasnya.

      Tifa seakan tak percaya akan perkataan Cloud. Dia tertawa terbahak-bahak karenya, “Ha ha ha. Peri? Kamu kira aku anak kecil yang percaya sama begituan? Peri itu nggak nyata. Mereka cuma ada di dunia dongeng. Jadi jangan bohong, deh! Atau jangan-jangan kamu ini  buronan polisi ya? Kamu teroris ya? Atau…”

          “Cerewet! Kamu perlu bukti? Sini ku buktiin.” Cloud membuktikan status ke-peri-annya dengan mengangkat gelas yang di meja tanpa menyentuhnya.


          Tifa terbelalak melihat apa yang dilakukan Cloud, “Kok…?”